Petani Enggan Memanen Rumput Laut

Thursday, 5 January 2012 | 10:27 WIB
KOTA – Petani rumput laut di Kabupaten Rembang enggan memanen tanaman budidayanya itu karena saat ini harga komoditas tersebut anjlok hingga hanya Rp4.000 per kilogram.

“Akibat harga rumput laut yang anjlok hingga hanya Rp4.000 per kilogram, kebanyakan petani memilih tidak memanen dan membiarkannya begitu saja untuk pakan bandeng yang juga dibudidayakan di tambak setempat,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang Suparman di Rembang, Kamis (5/1).

Padahal, sepanjang tahun lalu, pemerintah kabupaten setempat gencar mengampanyekan budi daya komoditas tersebut karena hasilnya dinilai menjanjikan.

Kala itu, selain mendorong nelayan membudidayakan rumput laut jenis cottoni Sp di wilayah perairan laut setempat, Dinas Kelautan dan Perikanan juga mengajak petani tambak memudidayakan rumput laut jenis gracilaria Sp secara polikultur di lahan tambak udang dan bandeng.

“Tidak adanya jaminan harga pasar yang jelas, bisa memicu nelayan dan petani tambak meninggalkan budidaya rumput laut,” kata dia.

Menurut dia, sebenarnya petani tambak cukup antusias membudidayakan rumput laut, khususnya di areal tambak udang dan bandeng, namun harganya justru anjlok hingga hanya Rp4.000 per kilogram saat musim panen tiba.

Perusahaan, kata dia, hanya mematok harga rumput laut sebesar Rp4.000 per kilogram dan itu dinilai merugikan petani.

“Idealnya, agar tetap berkeuntungan, harga rumput laut di tingkat petani setidaknya menyentuh Rp6.000 per kilogram dan karena harga yang terlalu rendah itu, petani malas memanen rumput lautnya,” kata dia.

Anjloknya harga rumput laut, kata dia, dipicu berlangsungnya musim panen raya rumput laut di sejumlah perairan di Sulawesi. “Karena pasokan melimpah, harga yang dipatok pabrik pun rendah,” kata dia.

Ia menyebutkan rumput laut selama ini dipasok ke pabrik sebagai bahan baku kosmetik maupun agar-agar dan komoditas ini potensial dikembangkan pada lahan tambak seluas 2.381 hektare di daerah ini.

Hanya, kata dia, saat ini, rumput laut yang dikembangkan pada “demonstration plot (demplot)” seluas lima hektare yang dikembangkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan pun dibiarkan tak dipanen dan dijadikan pakan bandeng karena harga anjlok.

“Pilihan ini dinilai lebih menguntungkan karena membantu perkembangan ikan bandeng. Sebab, kelekap atau ganggang yang hidup di dasar tambak, hanya cukup untuk konsumsi bandeng hingga dua bulan,” kata dia. (Puji)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan