Minim Perawatan, Ribuan Mangrove Pulau Gede Mati

Senin, 7 Mei 2012 | 08:06 WIB


KOTA – Ribuan mangrove yang ditanam dalam setahun terakhir di Pulau Gede diketahui banyak yang mati gara-gara minim perawatan, demikian ungkap Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Rembang, Purwadi Samsi.

“Sebanyak 5.000 bibit mangrove yang kami tanam pada awal April 2011 lalu banyak yang mati karena minim perawatan. Karena itu, kami berniat untuk menyulaminya dalam waktu dekat,” ungkap Purwadi Samsi, Senin (7/5).

Ia pun mengaku, upaya penghijauan sekaligus penyelamatan daratan pulau kecil yang terus menyusut itu tidak bisa dilakukan hanya mengandalkan pihaknya.

“Upaya konservasi pulau dengan perawatan mangrove yang telah ditanam perlu dukungan banyak pihak. Kami tidak bisa bekerja sendirian,” tandasnya.

Disebutkan, pihaknya akan kembali menanam sekitar 5.000 bibit mangrove sekaligus untuk melakukan perawatan atas bibit yang telah ditanam sebelumnya.

“Rencananya kami akan melakukan pada pertengahan Mei ini. Kira-kira setelah tanggal 16 Mei ini,” katanya menyebutkan.

Purwadi juga mengatakan, selain akan melakukan penanaman sebanyak 5.000 bibit mangrove, pihaknya kini tengah menanti alokasi bantuan terumbu karang buatan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

“Untuk rencana pembuatan terumbu karang buatan, jika tidak ada perubahan jatah untuk kita pada 2014. Saat ini masih dalam proses di kementerian (Kementerian Lingkungan Hidup, red.),” ujarnya.

Dijelaskan, penanaman mangrove dari jenis cemara laut akan difungsikan sebagai pendamping terumbu karang buatan nantinya. “Mangrove digunakan sebagai upaya konservasi jangka panjang, sedangkan karang buatan di antaranya penting untuk menahan dan memecah energi gelombang laut dalam waktu yang cenderung pendek, sehingga ancaman abrasi bisa diminimalisasi,” katanya menjelaskan.

Ia menambahkan, upaya menambah vegetasi daratan dengan tanaman seperti bakau dan cemara laut akan terus dilakukan secara bertahap sesuai dengan anggaran dan perhatian para pegiat lingkungan.

“Upaya menyelamatkan pesisir dan pulau kecil tidak harus selalu dilakukan oleh kami saja. Dukungan dari anggota DPRD kabupaten setempat, terutama yang berasal dari daerah pesisir sangat penting. Misalnya dengan mengalokasi sebagian dana aspirasi untuk kepentingan penyelamatan lingkungan pantai. Dukungan dari para pegiat lingkungan juga selalu dibutuhkan,” katanya menambahkan. (Puji)




One comment
  1. sri astuti

    Mei 7, 2012 at 9:28 am

    itu ada tawaran menarik untuk para DPRD. ayo pedulikan lingkungan. tengok tuch puka seribu bisa ditata seperti itu. http://needsofgirls.wordpress.com/2011/09/03/kepulauan-seribu/

    kita punya kok ditelantarkan hingga hilang ditelan ombak akibat reklamasi pantai. reklamasi mau kok pelihara keutuhan pulau tak mau. lihat tuh singapura habis berapa trilyunan untuk buat pulau baru… http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Jurong

    ayo semangat pelihara lingkungan. jangan hanya mikin dana aspirasi dan klenceran aja! biar rakyat tak rugi urus kalian dengan gaji, fasilitas dan fee proyek korupsi besar seperti itu.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan