Lagi, Sampah TPA Landoh Terbakar

Minggu, 22 Juli 2012 | 06:31 WIB

Belasan pemulung memungut sampah di TPA Landoh. (Foto: radior2b.com)

SULANG – Sekitar 1.000 meter kubik tumpukan sampah kering di zona sembilan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Landoh, Kecamatan Sulang, Sabtu (21/7) sekitar pukul 19.00 WIB, terbakar.

Meski tidak ada korban jiwa maupun kerugian material, kebakaran kali kelima sejak 2005 itu sempat membuat panik pengawas TPA setempat panik. Sebab, kebakaran berlangsung pada malam hari sehingga berpotensi meludeskan seisi TPA, termasuk bangunan kantor, jika tidak segera dikendalikan.

Menurut catatan suararembang, kali terakhir kebakaran sampah kering terjadi di zona tujuh pada 29 September 2011. Sebelumnya, kebakaran juga terjadi di TPA tersebut masing-masing pada 2005, 2007, dan 2009. Pada 2009, kebakaran bahkan sempat membawa korban tewas.

Pengawas TPA Landoh, Imran, mengemukakan kebakaran malam itu diketahuinya pukul 19.02 WIB. “Tahu-tahu asap mengepul pekat dari arah zona sembilan TPA yang terletak di sisi timur-selatan,” kata dia.

Pihaknya segera menghubungi tim pemadam kebakaran untuk menjinakkan api agar amuk si jago merah tidak merembet ke zona lain dan mengancam bangunan kantor di TPA setempat. “Soal penyebabnya yang jelas bukan dari api puntung rokok,” tegasnya.

Ia menyebutkan butuh sekitar 55.000 liter air dari 11 tangki pemadam kebakaran untuk menjinakkan api. “Setelah lebih dari tiga jam, api berhasil dipadamkan,” terang dia.

Menurut dia, potensi kebakaran di TPA Landoh memang terhitung tinggi saat memasuki kemarau. “Sampah kering yang menumpuk bisa tiba-tiba terbakar saat terkena panas terik,” katanya.

Pihaknya pun memastikan tidak ada petugas maupun pemulung yang membuang api puntung rokok secara sembarangan, sebab mereka dilarang merokok di areal TPA. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan