Kedelai Petani di Lima Kecamatan Rawan Diserang Hama Penggulung Daun

Sabtu, 21 September 2013 | 16:37 WIB
Hama penggulung daun kedelai. (Foto:fp.unram.ac.id)

Hama penggulung daun kedelai. (Foto:fp.unram.ac.id)

PAMOTAN, MataAirRadio.net – Sejumlah petani di Kecamatan Sedan, Kragan, Sale, Gunem, dan Pamotan terpantau mengembangkan tanaman jenis kedelai pada musim kemarau ini. Umumnya mereka mengembangkan kedelai jenis gepak ijo dan kuning karena dianggap cocok dikembangkan.

Namun menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Mulyono, petani perlu mewaspadai serangan hama penggulung daun ketika mengembangkan tanaman kedelai di musim kemarau.

Serangan hama penggulung daun ditandai dengan datangnya ngengat atau sejenis lalat yang jika dibiarkan akan langsung memakan serta menggulung daun kedelai.

Jika sudah diserang, asimilasi atau pengolahan zat yang mengandung butir hijau daun untuk merangsang maksimalnya biji kedelai, menjadi terhambat. Menurut Mulyono, produktivitas bakal menurun drastis jika diserang hama tersebut.

Biasanya serangan hama penggulung daun kedelai terjadi pada areal dengan periode tanam yang tidak serempak. Pengendalian terhadap serangan hama tersebut bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida.

Namun menurut Mulyono, di balik kerawanan serangan hama penggulung daun, menanam kedelai di musim kemarau, akan bisa membantu mengembalikan kesuburan tanah. Terutama di daerah yang memiliki kebiasaan pola tanam padi sepanjang tahun, seperti sebagian wilayah Sale dan Pamotan.

Bahkan Dinas Pertanian menyarankan petani di dua kecamatan tersebut untuk mengganti pola tanam padi ketiga dengan mengembangkan tanaman sejenis kedelai. Bintil akar dari kedelai akan menjadi penambat nitrogen sehingga tanah terjaga kesuburannya.

Tahun ini, ada sekitar 4.000 hektare areal tanaman kedelai yang dikembangkan petani di Kabupaten Rembang. Jumlah luasan tersebut jauh berkurang dibandingkan pada lima tahun silam yang bisa mencapai 6.000 hektare.

Agresi tanaman perkebunan seperti tebu dan tembakau menjadi salah satu penyebab berkurangnya pengembangan kedelai di kabupaten ini. Sementara pada belakangan ini, harga kedelai melambung tinggi dan diduga akibat dari minimnya petani yang menanam komoditas tersebut. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan