Jebol Sejak 2008, Tanggul Mojokerto Belum Diperbaiki

Selasa, 12 Juni 2012 | 07:47 WIB

KRAGAN- ‘Sambong’ atau tanggul sungai untuk keperluan irigasi di Dusun Gemanting Kecamatan Kragan yang jebol sejak 2008 silam saat ini terbelngkalai dan sama sekali belum tersentuh perbaikan. Padahal sebelum jebol, tanggul sepanjang kurang lebih 50 meter tersebut pernah selama 2 tahun menjadi salah satu sumber irigasi utama bagi beberapa desa sekitar seperti Mojokerto sendiri, Tanjungan (Kecamatan Kragan), Gonggang dan Sumbermulyo (Kecamatan Sarang) serta Menoro (Kecamatan Sedan).
Menurut Kepala Dusun Gemanting, Khamim (32), Selasa (12/6), tanggul yang dibangun oleh pemerintah itu jebol hanya dua tahun setelah diresmikan pada tahun 2006. Sehingga masyarakat di 4 desa terdekat hanya bisa memanfaatkannya sebagai keperluan irigasi hanya sekitar 2 tahun.
“Baru selesai dibangun 2006, namun 2008 sudah jebol. Jadi hanya bisa termanfaatkan selama 2 tahun,” jelasnya.
Khamim juga menyatakan sejak jebolnya tanggul tersebut hingga saat ini belum pernah sama sekali ada upaya perbaikan dari pihak terkait. Hal itulah yang menurut dia membuat prospektifitas pertanian di 4 wilayah yang tadinya dilalui irigasi dari tanggul cukup tersendat hingga sekarang.
“Untuk beberapa desa yang tadinya dialiri irigasi dari tanggul, kini pertaniannya lebih terlihat merana. Seperti di Dusun Gemanting yang para petani hanya mengandalkan air hujan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebenarnya tanggul tersebut sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas penunjang irigasi, seperti kanal yang mengarah ke area pertanian. Namun, lanjut dia, karena hingga saat ini kerusakan tanggul dibiarkan, kanal-kanal yang tadinya dibuat juga tidak ada fungsinya.
“Kalau fasilitas tanggul sudah komplet mas, ada kanal yang mengarah ke lahan-lahan milik petani di beberapa desa. Namun sayang belum ada langkah konkret dari pemerintah. Sedangkan untuk swadaya dari masyarakat tentu biaya tidak sedikit. Apalagi volume dari tanggul tersebut juga tergolong besar,” terangnya lagi.
Untuk itu, dirinya berharap agar pemerintah lebih peka terhadap apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Setidaknya, kata dia, pemerintah mengusahakan kembali pemanfaatan tanggul tersebut meskipun dibutuhkan banyak anggaran.
“Kalau anggaran saya juga yakin tidak sedikit. Namun, demi kesejahteraan masyarakat kan juga hal itu perlu dilakukan. Kasihan masyarakat sini yang nasibnya seolah tergantung oleh air hujan,” pangkasnya. (Ilyas)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan