122,5 Hektare Hutan Dikayakan untuk Konservasi

Sabtu, 28 Januari 2012 | 08:29 WIB


KOTA – Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Mantingan mengayakan seluas 122,5 hektare hutan sekunder di wilayah Pegunungan Bono, BKPH Demaan untuk mewujudkan kawasan bernilai konservasi tinggi, termasuk guna melindungi satwa langka.

Ajun Administratur KPH Mantingan Mohammad Risqon, Sabtu (28/1) mengatakan, saat ini hutan sekunder di kawasan atas Pegunungan Prajurit tersebut sudah ditumbuhi tanaman jati dan mahoni, namun masih perlu dikayakan lagi.

“Meski sudah ada tanaman jati dan mahoninya, hutan sekunder di wilayah Pegunungan Bono tersebut masih perlu dikayakan lagi dengan tanaman rimba lokal seperti kepoh, klumpit, salam, beringin, weru, dan asem jawa,” kata dia yang didampingi Kaur Lingkungan KPH Mantingan, Edi Pramono.

Ia menjelaskan, pengayaan hutan sekunder dengan tanaman rimba lokal diyakini bakal memantik datangnya satwa serta melindunginya dengan kehadiran pakan alami untuk mereka.

“Dengan tanaman kepoh dan klumpit misalnya, hewan sejenis kera dan burung bisa mendapatkan pakan alaminya dari dua tanaman tersebut. Sementara dengan tanaman weru dan asem jawa, maka fauna sejenis menjangan dan burung juga akan tercukupi pakannya,” kata dia.

Ia juga menyebutkan, pengayaan kawasan hutan di tepi sungai juga dilakukan dengan menanam tanaman sejenis jambu klampok dan kersen. “Dengan tanaman-tanaman tersebut, satwa langka bisa terpancing datang,” kata dia.

Edi menambahkan tanaman-tanaman untuk pengayaan hutan konservasi tersebut sudah dilakukan secara bertahap sejak satu bulan lalu. “Langkah memperkaya tanaman di hutan untuk konservasi tersebut kami lakukan secara bertahap hingga 2020,” kata dia.

Senyampang memperkaya tanaman sebagai pakan alami satwa tersebut, imbuh Edi, pihaknya juga akan kembali melakukan survei biodiversity untuk mengetahui keragaman flora dan fauna di wilayah kesatuan pemangku hutan (KPH) Mantingan.

“Kami akan data kembali satwa baik jenis aves, mamalia, dan herpetofauna serta survei transeks dan mengetahui vegetasi fauna di wilayah hutan setempat,” kata dia. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan