Pembibitan “Bud Chip” Diminati Petani Tebu Rembang

Senin, 18 Juni 2012 | 07:30 WIB

SULANG – Petani tebu di Kecamatan Sulang berencana mengembangkan teknologi pembibitan tebu dengan menggunakan metode “bud chip” atau mata tebu setelah mereka berhasil mengembangkan pembibitan dengan kultur jaringan.

Ketua Kelompok Petani Tebu Sido Luhur Desa Karangharjo Kecamatan Sulang, Maryono, Senin (18/6) menuturkan, teknik pembibitan dengan metode “bud chip” telah banyak dikembangkan di banyak daerah di luar Rembang.

“Teknik pembibitan dengan mata tebu ini banyak dikembangkan oleh petani tebu misalnya di Ungaran. Karena memiliki keunggulan di jumlah anakan, para petani tebu di sini pun berniat mencoba mengembangkannya,” terang Maryono.

Bahkan, lanjut dia, pada Rabu (20/6), pihaknya mengirimkan beberapa anggota kelompok tani tersebut untuk menimba ilmu pembibitan tebu dengan metode “bud chip” di Ungaran. “Biaya belajar itu menjadi swadaya kelompok,” ujarnya.

Ia menyebutkan, dengan bibit tebu yang dikembangkan dengan kultur jaringan saja, produktivitas panen per hektare meningkat signifikan. “Dari yang sebelumnya hanya 3,8 kuintal, dengan kultur jaringan, produktivitasnya bisa mencapai 4 kuintal per hektare,” katanya.

Sementara, melalui pembibitan bermetode mata tebu itu, Menurut Maryono yang juga Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Rembang, produktivitas per hektarenya bisa mencapai paling tidak 4,5 kuintal.

“Konon katanya selain jumlah anakannya yang lebih banyak dibandingkan dengan hasil teknik pembibitan biasa, tebu ‘bud chips’ juga memiliki fisik yang lebih besar,” ujarnya.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Kabupaten Rembang, Yosophat Susilo Hadi kepada suararembang mengatakan, teknologi pembibitan tanaman tebu dengan menggunakan metode “Single Bud atau Bud Chips” memang menjadi unggulan belakangan ini.

“Keunggulannya antara lain di jumlah anakan. Jumlah anakan tebu yang dikembangkan dengan ‘bud chip’ bisa mencapai 7 hingga 10 anakan jadi dari satu mata tebu,” jelasnya.

Susilo menambahkan, selain keunggulan jumlah anakan jadi yang cukup banyak dalam satu rumpunnya, keunggulan lain tebu “bud chip” juga dilihat dari fisik tebu yang dihasilkan. “Hasilnya sama dengan fisik tebu bibit yang digunakan untuk ‘bud chip’,” tandasnya. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan