Pola Arus dan Migrasi Ikan Saat El Nino Terungkap

Wednesday, 8 July 2015 | 10:55 WIB
Ilustrasi (Foto: bmkg.go.id)

Ilustrasi (Foto: bmkg.go.id)

 

mataairradio.com – Perubahan suhu muka laut di Samudra Pasifik saat El Nino atau La Nina tak hanya menimbulkan cuaca ekstrem, tetapi juga memengaruhi pola migrasi ikan di perairan Indonesia. Informasi itu bisa membantu nelayan mengetahui lokasi penangkapan ikan.

Menurut Ketua Ekspedisi Riset Kelautan South China Sea and Indonesian Seas Transport/Exchange (SITE) dan Dinamika Selat Sunda R Dwi Susanto, akhir pekan lalu, di Jakarta, berdasarkan serangkaian riset di Laut Tiongkok Selatan dan Arus Lintas Indonesia, pada April-Mei, ikan laut dalam di Laut Jawa yang berasal dari Samudra Hindia ditemukan. Jenis ikan antara lain cakalang atau tongkol.

Sebaliknya, pada Juni-Agustus, arus laut berbalik ke barat laut, yakni dari Laut Jawa keluar ke Laut Tiongkok Selatan. “Ikan yang ditemukan di Laut Jawa pada bulan-bulan itu berasal dari Samudra Pasifik, yaitu jenis ikan pelagis, yang masuk dari Selat Makassar,” kata Dwi yang juga Ketua Peneliti Departemen Ilmu Kelautan dan Atmosfer Universitas Maryland, Amerika Serikat.

Namun, saat El Nino yang ditandai menghangatkan suhu di Samudra Pasifik tak hanya akan menyebabkan kekeringan di Asia Barat, termasuk Indonesia. Itu memengaruhi ekosistem di laut, termasuk pergerakan ikan.

Dilansir dari print.kompas.com, hasil riset oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat El Nino pada 1997 menunjukkan peningkatan populasi ikan di perairan Indonesia ketika wilayah perairan timur Indonesia mendingin. Saat itu terdeteksi lima konsentrasi tinggi populasi ikan di perairan barat Sumatera dan Selatan Jawa, pada April dan Mei. Selain di perairan selatan, daerah ikan yang subur ialah di utara Papua Barat.

Suhu muka laut dingin memicu kenaikan massa air. Menurut data hidroakustik sesuai dengan pantauan satelit, tingkat kehijauan tinggi berupa klorofil. “Itu tempat ikan subur,” kata Nani Hendiarti, peneliti penginderaan jauh BPPT, juga Asisten Deputi Iptek Kemaritiman Kementerian Koordinator Maritim.

Saat El Nino tahun 1997, konsentrasi klorofil di Selat Jawa dan Bali pada tingkat maksimal. Sebaliknya, saat La Nina, suhu muka laut di barat Samudra Pasifik hingga Indonesia menghangat. Saat suhu muka laut menghangat, massa air laut yang membawa plankton naik ke permukaan sehingga area itu jadi tempat berkumpulnya ikan. Menurut riset di utara Papua, di daerah depan perbatasan air hangat dan dingin serta ada banyak ikan.

Saat itu ikan tuna dari Pasifik timur yang dingin masuk ke Indonesia sampai perairan utara Maluku. Ikan tuna mencari perairan dengan suhu 18-22 derajat celsius. Itu terjadi saat La Nina. “Diperkirakan, 30 persen ikan tuna dunia ada di Pasifik Barat,” ujar Dwi yang menjadi peneliti kelautan di BPPT.

 
Sumber: print.kompas.com
Editor: Arif Bahtiar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan