Nafas Terakhir Badriatus Di Kilometer 146

Jumat, 4 Mei 2012 | 06:58 WIB


SLUKE – Maksud hati hendak mengambil uang kiriman dari ayahnya yang bekerja sebagai kuli bangunan di Makasar, seorang gadis berumur 13 tahun, Badriatus Sa’diyah, justru meregang nyawa setelah mengalami kecelakaan di kilometer 146 Jalur Pantura, turut Desa Balongmulyo, Kecamatan Kragan, Kamis (3/5), sekitar pukul 14.30 WIB.

Kejadian nahas tersebut bermula ketika Badriatus dan ibunya, Rukayah (40), warga Labuhan Kidul Kecamatan Sluke, memutuskan berangkat ke rumah Ami (30) di Desa Karangharjo Kecamatan Kragan, untuk ‘tilik’ bayi sekaligus mengambil uang kiriman dari Muhdor (50), bapaknya, yang bekerja sebagai kuli bangunan di Makasar.

Namun, sesampainya di jalur pantura dekat lapangan Desa Balongmulyo, sepeda motor jenis Yamaha Mio K 5675 EM yang dikendarai korban diketahui oleng tanpa sebab yang jelas dan terjatuh di tengah jalan.

Sementara, dari arah belakang telah melaju deras sebuah bus pariwisata Excellent yang dikemudikan Suwartono (55), warga RT 2 RW 3 Desa Deket Wetan, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Korban Badriatus dan ibunya pun terlindas bus yang mengangkut 55 penumpang dan hendak mengantar peziarah walisongo.

Badriatus langsung menghembuskan nafas terakhirnya di lokasi kejadian karena menderita luka parah di bagian kepala, sedangkan ibunya dilarikan ke rumah sakit di Solo karena mengalami luka berat di bagian tangan.

Pengemudi bus pun langsung ditahan di Makolantas Polres Rembang untuk diperiksa. Sementara Manajemen bus pariwisata Excellent, Adi (45), menyatakan siap memberikan santunan kepada korban meninggal dan yang tengah dirawat di rumah sakit.

“Kejadian ini murni musibah bagi kami. Namun, kami siap memberikan santunan kepada korban sebagai bentuk belasungkawa. Ketika insiden itu terjadi, bus sedang mengangkut 55 orang penumpang, rombongan peziarah walisongo,” kata Adi.

Badriatus Sa’diyah tercatat sebagai siswa di MTs Maslakul Huda, Sluke. Ia tiga bersaudara. Jenazahnya baru dimakamkan pada Jumat (4/5) sekitar pukul 10.00 WIB di pemakaman umum desa setempat.

Ayah korban, Muhdor tampak hadir di pemakaman putri bungsunya itu. Puluhan siswa MTs Maslakul Huda Sluke dan kepala madrasah juga datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

Sandi (12), salah seorang teman korban mengungkapkan, sehari sebelum kejadian memilukan itu, korban memang menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya.

“Tiba-tiba ia bertanya kepada saya, jika orang telah mati tinggalnya di mana? Saya pun menjawab, ya di alam kubur,” kata dia.

Kepala MTs Maslakul Huda, Sumardi yang ditemui seusai pemakaman Badriatus mengatakan, pihaknya telah berulang kali mengingatkan kepada para wali siswa agar tidak memberikan kebebasan anaknya dalam mengendarai sepeda motor untuk berangkat ke madrasah.

“Mestinya anak-anak belum saatnya mengendarai sepeda motor karena memang belum mengantongi SIM. Saya sudah sering sampaikan hal itu baik langsung kepada siswa maupun kepada orang tua. Kami berduka atas meninggalnya salah seorang siswa kami,” kata dia.

Kecelakaan yang mengakibatkan meninggalnya Badriatus Sa’diyah tersebut sekaligus menjadi kejadian kecelakaan pertama di bulan Mei ini.

Satlantas Polres Rembang mencatat, sejak Januari hingga April 2012, terjadi sebanyak 167 kecelakaan dan sebagian besar terjadi di Jalur Pantura. Dari rentetan kejadian kecelakaan tersebut, 48 orang korban di antaranya meninggal dunia, 66 orang korban mengalami luka berat, dan 176 korban mengalami luka ringan. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan