Ditinggal Masak, Balita Tewas Tenggelam Di Pantai

Senin, 11 Juni 2012 | 04:28 WIB


KOTA – Seorang balita di RT 1 RW 2 Desa Kabongan Lor, Kecamatan Kota Rembang, Arya Divo Dwi Saputra, 22 bulan, ditemukan mengambang tanpa nyawa di pantai setempat, Senin pagi sekitar pukul 08.30 WIB.

Bocah yang usianya akan genap dua tahun pada 7 Agustus mendatang itu diduga terpeleset saat bermain sendirian di tepi pantai. Ketika itu, ombak sedang pasang. Sementara ibunya, Melia Wijayanti tengah memasak di dapur.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, Yanti, demikian Melia Wijayanti kerap disapa, diketahui baru pulang dari melayat di tetangganya. Ia pun bergegas memasak lantaran suaminya, Rohmad, sedang melaut mencari rajungan dan menjelang tengah hari biasanya sudah pulang.

Saat memasak itu, Divo keluar rumah untuk bermain. “Saya kira dia main ke rumah mbahnya. Rumah mbahnya hanya berjarak tiga rumah dari sini,” terang dia.

Namun, baru sejenak memasak, seorang warga mendapati Divo mengambang di pantai dan segera mengabarkannya ke Yanti. “Saya yang mengangkat sendiri tubuh anak saya yang telah pucat pasi. Ia telah meninggal,” kata Yanti terbata-bata.

Seketika, lingkungan setempat pun geger. Pihak keluarga segera mengirimkan seorang warga untuk menyusul Rohmad di laut agar memintanya pulang segera.

Rumah keluarga Rohmad dan Yanti memang berada hanya beberapa meter dari tepi laut. Sementara, sudah tiga hari terakhir ini, pada setiap pagi hingga siang hari ombak pasang. Warga menyebutnya ombak “kesongo”. Air pasang hingga mendekati kawasan permukiman.

Begitu sampai di rumah, Rohmad langsung syok. Tangisnya pecah tak tertahan. Beberapa anggota keluarga pun menenangkannya seraya memintanya untuk mengikhlaskan anak keduanya itu.

Jenazah bocah yang dikenal lincah dan periang itu langsung dimandikan dan dimakamkan di desa setempat.

“Saat sore hari memang banyak anak-anak yang bermain di pantai karena laut surut. Namun pada pagi hari ketika laut pasang, kami sudah sering mengingatkan warga untuk mengawasi anak-anaknya. Ini musibah,” terang Muhammad Ilham, Ketua RT setempat.

Sekitar lima tahun silam, menurut Ketua RT, peristiwa serupa juga pernah terjadi. “Setelah peristiwa ini, semua warga bisa memetik pelajaran,” tandasnya. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan