Hujan, Petani Tembakau Siaga Ulat

Senin, 11 Juni 2012 | 06:20 WIB


REMBANG – Sejumlah petani tembakau di Kabupaten Rembang mengaku tengah siaga terhadap kemungkinan serangan ulat hijau seiring hujan yang turun sejak Minggu (10/6) petang hingga Senin (11/6) pagi.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Rembang, Maryono, Senin (11/6) menuturkan, hujan yang turun nyaris semalaman itu memang belum merisaukan petani.

“Namun, hujan yang turun bisa memicu serangan ulat hijau dan klaper. Klaper ini bertelur dan akan cepat menetas kalau diguyur hujan,” terang dia.

Ia menjelaskan, petani belum risau dengan turunnya hujan lantaran kondisi parit-parit di lahan pertanian tembakau cenderung masih aman dari air alias belum tergenang.

“Kalau parit-paritnya sudah tergenang dan merendam daun tembakau itu yang dikhawatirkan. Daunya menjadi rusak,” tandas Maryono yang petani tembakau asal Desa Karangharjo Kecamatan Sulang.

Suwardi, petani tembakau di Desa Grawan Kecamatan Sumber menambahkan, ia memang langsung siaga terhadap kemungkinan serangan ulat hijau begitu hujan mengguyur cukup deras hampir semalaman.

“Kalau ulat hijau menyerang dengan intensitas ringan, kami akan menanganinya secara manual, diambili dengan tangan pada pagi hari. Petunjuknya memang seperti itu,” ujar dia.

Saat ini, kata dia, tanaman tembakau petani di wilayahnya sudah memasuki masa dangir kedua karena sudah berdaun lebih dari tujuh lembar. “Jadi harus siaga terhadap serangan ulat,” tegasnya.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Yosophat Susilo Hadi menerangkan hujan yang turun secara tiba-tiba rawan mengundang klaper atau kupu-kupu kecil sehingga mengancam pertumbuhan daun tembakau.

“Klaper ini rawan muncul dan menempel di daun tembakau manakala cuaca panas secara tiba-tiba berganti hujan atau gerimis dalam waktu yang relatif lama,” terang dia.

Hujan secara tiba-tiba, lanjut dia, juga bisa merangsang pertumbuhan ulat-ulat di sekitaran lahan tembakau. “Hujan memicu telur ulat cepat menetas. Jika sudah demikian, ulat-ulat itu akan dengan cepat merayap dan menempel di daun-daun tembakau,” terang dia lagi.

Susilo menambahkan, jika serangan ulat mulai mengganas, petani bisa saja mempertimbangkan penggunaan obat antiulat, namun dengan dosis rendah.

“Pengendali ulat ini bisa menggunakan Metindo. Catatannya satu, dosisnya harus rendah untuk menjaga kualitas daun tembakau,” kata dia. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan