Kepala Sekolah dan Kades Korowelang Saling Serang

Rabu, 18 April 2012 | 08:16 WIB


Klarifikasi Proyek Rehabilitasi Sekolah Rusak SDN Korowelang
KOTA – Klarifikasi atas kemelut perbaikan tiga ruang kelas dan satu ruang kantor di Sekolah Dasar Negeri Korowelang, Kecamatan Sulang oleh DPRD Kabupaten Rembang dengan menghadirkan pihak sekolah, dinas pendidikan setempat, komite sekolah, dan pemerintah desa, serta konsultan proyek, Rabu (18/4), berlangsung tegang dan menjurus panas karena terjadi aksi saling ‘serang’.

Kepala SDN Korowelang, Martini yang diberikan kesempatan awal oleh Wakil Ketua DPRD Catur Winanto untuk menanggapi surat aduan dari masyarakat Desa Korowelang terkait dugaan penyimpangan perbaikan empat ruang di sekolah itu, langsung ceplas ceplos melancarkan bantahan.

Martini yang datang dengan didampingi Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Sulang, Abdul Kholiq, dan dua orang pejabat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang membantah nyaris semua poin aduan di surat yang dilayangkan masyarakat itu.

Kepala Sekolah antara lain menyangkal tuduhan tidak pernah menggelar rapat membahas perbaikan gedung sekolah dengan melibatkan unsur masyarakat dan komite sekolah.

“Kami menggelar rapat membahas perbaikan empat ruang sekolah yang dibiayai dengan Program Penuntasan Rehabilitasi Sekolah Rusak pada 28 Maret 2012. Raoat dihadiri oleh unsur masyarakat dan komite sekolah. Ada berita acaranya kok,” kata Martini saat memberikan klarifikasi di depan anggota Komisi C dan D DPRD serta perwakilan BPD, Kepala Desa, dan Ketua Komite SDN Korowelang.

Ia mengaku memang tidak mengundang kepala desa dalam pertemuan itu karena dalam petunjuk teknis pelaksanaan Program Penuntasan Rehabilitasi Sekolah Rusak itu tidak ada kewajiban melibatkannya. “Selain alasan itu, kami trauma dengan pengerjaan proyek DAK pada 2009 ketika melibatkan kepala desa. Gara-gara (melibatkan kepala desa) itu, saya jadi punya banyak utang,” katanya.

Martini juga membantah telah menjual barang-barang hasil bongkaran dari bangunan lama, terutama besi dan asbes. “Barang-barang bongkaran itu tidak kami jual, tetapi kami titipkan ke kantor UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Sulang agar lebih aman. Bisa dicek di sana. Langkah itu kami ambil karena berdasarkan pengalaman, batu bata merah hasil bongkaran yang hendak kami manfaatkan kembali karena kondisinya yang masih layak, justru hilang tak jelas siapa yang mengambilnya,” terang dia.

Tentang tuduhan pihak desa yang menyebut proyek tersebut terkesan dirahasiakan, Martini pun menyangkalnya. “Kami memampangkan gambar, RAB, dan petunjuk pelaksanaan proyek di areal sekolah dan masyarakat bisa melihatnya,” tandasnya.

Demikian halnya dengan tudingan yang menyebut fondasi lama sudah tidak layak lagi dan besi yang digunakan juga tidak standar, Martini yang didampingi konsultan proyek tersebut, mengatakan pondasi masih layak. “Soal besi slup yang digunakan adalah besi 10, bukan 12, itu karena slup lama (besi berdiameter 12 mm) masih digunakan sehingga slup baru bersifat penambahan,” jelas sang konsultan.

Pihak sekolah bahkan mengklaim, selain mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang prinsipnya sesuai petunjuk teknis, sejumlah pekerjaan sebagai pengembangan dari program tersebut justru dilakukan. “Misalnya, dalam petunjuk teknis disebutkan, batu bata merah dari bangunan lama masih layak dipakai. Namun karena batu bata merah itu sudah hilang, maka kami harus membeli dengan yang baru,” terangnya.

Jika pun masyarakat masih mempersoalkannya, kata sang konsultan, pihaknya siap menjelaskannya lebih lanjut, termasuk adu argumen soal ketepatan teknis pengerjaan proyek itu. “Masih memungkinkan adanya mutual check akhir proyek. Apalagi pelaksanaan RAB dan gambar memang tidak saklek (kaku, red.),” tandasnya.

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Rembang, Gunasih senada dengan penjelasan pihak sekolah. “Komisi C sudah melakukan inspeksi ke lapangan dan pengerjaan proyek telah sesuai dengan kaidah teknis. Bahkan kalau diselaraskan dengan RAB, rehabilitasi sekolah rusak di SDN Korowelang telah banyak pengembangan,” terangnya.

Meski demikian, pihak masyarakat melalui Kepala Desa Korowelang, Muridan tidak cukup puas dengan tanggapan Kepala SD tersebut. Menurutnya, proyek senilai Rp277 juta tersebut masih menyimpan sejumlah tanya. “Sekolah terkesan menghindar dari kepala desa dan komite sekolah. Padahal, sekolah itu berdiri di tanah desa kami,” ujar dia.

Ia juga masih menyoal langkah sekolah yang menitipkan barang hasil bongkaran, berupa besi dan asbes ke Kantor UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Sulang. “Pihak sekolah buru-buru menitipkan barang-barang itu ke kantor UPT Dinas Pendidikan Sulang setelah kasus ini mencuat di koran. Padahal sebelumnya, seorang telah mengaku telah membeli besi-besi hasil bongkaran itu,” ungkapnya.

Muridan pun balik menyerang Martini. “Kalau saya disebut berutang Rp1 juta kepada sekolah atas pengerjaan proyek DAK 2009 dan sampai sekarang belum saya kembalikan, bukankah itu tidak lebih banyak dibandingkan uang Rp30 juta, ‘sisa’ dari pengerjaan proyek DAK 2009, yang dipakai bancakan oleh pihak sekolah,” ungkapnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Rembang Suwanto hanya bisa berharap polemik seputar perbaikan gedung SDN Korowelang tidak berkepanjangan. “Kasihan anak-anak yang bersekolah di sana. Mereka bisa menjadi korban atas persoalan ini,” katanya. (Puji)




2 comments
  1. nurani

    April 18, 2012 at 10:01 am

    masih terlalu banyak celah yang tidak tersentuh yang sesungguhnya menjadi biang keladi akar persoalan MAFIA DAK yang sebenarnya. DPRD terkesan memoles masalah sebagus mungkin agar “ruang gelap penuh hantu itu tidak tersingkap”. tapi sayang semua itu terlihat jelas hanya sebatas permukaan. ibarat perempuan cantik, jalanya sidang itu hanya bagus dimukanya, wajahnya saja. dalamnya, pokok persoalan kongkalikongnya tidak tersentuh. seperti kebocoran 20% yang ditarik ke atas. ditambah lagi kebocoran yang diambil oleh pemborong/pelaksana proyek (kepala sekolah cs) tidak kurang dari 20-30%.

    Sidang ini kelihatan sekali kalo sudah dipersiapkan benar khusuny dari pihak Diknas dan jajaranya. dan sudah diskrenario kalo yang jadi pemenangnya tetep kepala sekolah cs. karena ujung MAFIA DAKnya memang ada di sana. Sebagai contoh janggal seperti besi dan bekas kusen dll. yang seolah-olah “diselamatkan” di UPT DIknas. padahal sebelumnya sudah ada deal-deal siapa yang membeli dan dijual dengan harga berapa. dan semua orang tahu kalo barang bekas ini ujung2nya mereka tilep. di sini jelas betapa gampangnya para MAFIA Dak ini memainkan peran yang semula sebagai penjahat tiba-tiba bak pahlawan menyelamatkan aset negara.

    Masih banyak lagi praktek kelam yang SETALI TIGA UANG bagi mereka para penyelnggara pendidikan kalo kepergok kemudian membabi buta untuk “saling rukun” demi kepentingan merampok uang negara. dan sepanjang apa yang menjadi RUANG HANTU itu tidak dibongkar total secara terang benderang akan terus menjadi tempat “delikan” para hantu pocong pengembat uang APBD, baik mereka yang berada di dewan terhormat DPRD, Diknas maupun di sekolah-sekolah itu.

    dan yang paling tragis dari tragedi ini adalah mereka para pemilik kedaulatan penuh atas tanah tumpah darah mereka justru dianggap sebagai biang persoalan, sebagai sosok buruk muka yang suka menggangu jalannya pembangunan gedung SD. Kades, komite dan tokoh masyarakat seolah berwajah buruk rupa sebagai pengrusak sistem pendidikan. Para Kades, komite dan tokoh-tokoh masayarakat yang sesungguhnya sebagai penyelamat pendidikan demi kemajuan, keselamatan dan kebaikan bersama sistem belajar mengajar di desa tersebut. supaya tidak ada lagi tragedi gedung SD yang ambruk seperti di Sumber beberapa waktu lalu akibat korupsi dan mark up yang sangat besar.

    Tapi di sidang klarifikasi ini, para pihak yang sesungguhnya peduli dengan tulus dan iklas demi kemajuan desanya malah dicitrakan seolah mereka pengganggu dan penjahat yang buruk muka dan selalu bikin onar pembangunan sekolah-sekolah dasar di desa-desa itu. Sebaliknya yang jelas-jelas sebagai pengemplang proyek secara sistimatis dan rapi yang merampok DAK tinggal 50-40% untuk realisasi justru ditampilkan seolah-olah cantik, bersih dan berwibawa tanpa cela dan hebat.

    Hebatlah para pengrusak sistem pendidikan di rembang dan penghancur masa depan bangsa atas nama para pencerah dan para pendherma sistem pendidikan di Rembang. yang telah melupakan KEJUJURAN dan TRANSPARANSI dan menjunjung tinggi kebohongan dan kepalsuan dalam mendidikan anak-anak dan generasi muda di rembang demi kekuasaan yang korup dan hina.

    selamat atas kemenangan para KORUPTOR dan MAFIA DAK di Rembang.

    dan kita ucapkan Hebat kepada Bupati Rembang!

    Reply
  2. SDR

    April 18, 2012 at 12:24 pm

    pemimpin sidang dua-duanya Gangnya MAFIA APBD REMBANG, Catur WInanto sama Gunasih. dua-duanya selaku kontraktor pengadaan barang dan jasa yang jelas jeruk makan jeruk. apanya yang disidangkan kalo pemimpinnya tidak kredibel, korup dan tidak dapat dipercaya.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan