Pikat Investor Pabrik Gula, Petani Studi Banding

Selasa, 17 April 2012 | 09:53 WIB


KOTA – Pemerintah Kabupaten Rembang bertekad memperluas areal pertanian tebu dari 7.000 hektare menjadi 10.000 hektare sebagai salah satu pemikat investasi pabrik gula di daerah itu.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Suratmin, Selasa (17/4) mengatakan, upaya memperluas areal itu antara lain dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada petani setempat untuk melihat pengelolaan pertanian tebu di Blitar, Jawa Timur melalui kegiatan studi banding.

“Untuk menambah luasan areal pertanian tebu dari 7.000 hektare menjadi 10.000 hektare, kami perlu mengetengahkan prospek tanaman ini kepada petani dengan cara belajar dari daerah lain yang telah sukses mengembangkannya, termasuk varietas tebu seperti apa yang diminati oleh pabrik gula. Dengan begitu, para petani akan tercerahkan,” tandasnya.

Pihaknya mengajak sekitar 20 petani tebu untuk menimba ilmu pengembangan tebu di Blitar. Mereka didampingi oleh sejumlah tim teknis dari dinas setempat. “Rombongan berangkat hari ini (Selasa, 17/4) dan dijadwalkan pulang Jumat (20/4),” terangnya.

Menurutnya, melalui studi banding itu, sekitar 8.000 hektare lahan potensial tebu diharapkan akan bisa terserap secara bertahap. “Pada April saja, sudah ada penambahan 300 hektare lahan baru untuk tebu,” katanya menyebutkan.

Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Solechan yang turut dalam rombongan mengungkapkan, Rembang nampaknya dilirik sejumlah investor pabrik gula, salah satunya PT Industri Gula Nusantara (IGN).

“Studi banding kali ini sekaligus untuk melihat lahan tebu percontohan yang dikembangkan PT IGN di Blitar. Harapannya, tentu agar Rembang juga bisa mengembangkannya,” ujarnya.

Menurut Solechan, melalui studi banding selama tiga hari itu, petani Rembang akan mendapatkan penjelasan dan informasi baru terkait varietas tebu yang banyak diminati industri gula berskala nasional.

“Kabarnya, varietas tebu yang dibudidayakan di Blitar berbeda dengan di Rembang. Entah varietas apa. Melalui studi banding, kami dan petani akan tahu jenis varietas itu dan pembudidayaannya,” tandas dia.

Ia juga mengatakan, dengan studi banding itu, maka ketika pabrik gula jadi berdiri di Kabupaten Rembang, tambahan areal tebu sudah memenuhi kuota yang dibutuhkan investor, termasuk varietas baru tebu yang dibutuhkan.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang mencatat, pabrik gula yang mungkin akan didirikan di Rembang berkapasitas produksi 5.000 tcd (ton crush day) atau 5.000 ton per hari. “Di awal ini, petani perlu tahu bahwa pertanian tebu prospektif,” tandasnya. (Puji)




2 comments
  1. marhen

    April 17, 2012 at 10:48 am

    sudah berapa kali varietas tebu baru dicoba dan didatangkan di rembang. semua gagal karena semua program2 itu hanya berhenti pada cairnya anggaran dan realisasi hanya formalitas belaka. kalo proyek sudah didok dan dilaksanakan, berarti keuntungan sudah didapat. dan proyek akan berhenti sampai disitu saja. tidak ada yang berpikir bagaimana tebu itu bisa tumbuh bagus dan berhasil mendatangkan manfaat lebih sebagaimana tujuan awal. demikian juga untuk studi banding semua sudah pernah dilakukan dan hanya menghambur-hamburkan uang saja alias klenceran.

    semua orang tahu untuk kepentingan siapa investasi pabrik gula itu. jelas bukan untuk kesejahteraan rakyat. uang APBD yang dipakai untuk perluasan areal tebu itu juga bisa dipastikan bukan untuk rakyat rembang, apalagi wong cilik. wong cilik itu tidak mungkin bisa merasakan manisnya hasil tebu.paling-paling hanya bisa ngicipi nggayang tebu. bukan keuntungan yang menggunung itu. rakyat rembang khususnya wong cilik yang selalu dipakai atas nama itu paling-paling hanya sebagai kuli tebang tebu.

    sesungguhnya rakyat rembang itu butuh bisa lancar ekonomi sehari-harinya, tidak butuh ada investor pabrik gula atau tidak. juga tidak butuh perluasan areal tebu apalagi pakai uang rakyat yang ujung-ujungnya dikemplang oleh mereka yang selalu bersemangat membuat proposal dan mensukseskan program. perluasan areal tebu dengan uang APBD itu ujung-ujungnya untuk dikorupsi.

    Reply
  2. Anonymous

    April 20, 2012 at 3:05 pm

    Tebu ……… sebuah komoditas industri yang hanya akan dinikmati bila diusahakan dalam skala luas. jadi sudah pasti petani hanya akan menyewakan tanahnya kepada para juragan yang notabene berasal dari luar kota, para petani akan menjadi penonton di lahan mereka sendiri. Petani akan beralih profesi menjadi “Buruh Tani” bagi para majikannya.
    Tebu ……… ada varietas yang tumbuh bagus di lahan sawah yang subur dengan cukup air, ada pula varietas yang tumbuh bagus di lahan yang kurang air dan biasanya disebut tebu lahan kering. Rembang jelas berbeda dengan Blitar dalam hal kesuburan tanah dan ketersediaan airnya …… jadi sudah tepatkah studi banding*tebu ke blitar??? Sebuah pertanyaan yang menggelitik…
    Petani butuh komoditi bernilai tinggi yang bisa diusahakan dalam skala usaha keluarga petani ….. agar petani bisa menjadi tuan rumah di sawahnya sendiri ….
    Bapak-bapak … tolong dipikirkan nasib petani…

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan