Masuki Kemarau, Harga Jagung Membubung

Rabu, 18 April 2012 | 09:11 WIB


GUNEM – Memasuki musim kemarau, harga jagung mulai mengalami kenaikan cukup signifikan. Jika sebulan yang lalu harga jagung di tingkat petani di Kabupaten Rembang hanya berkisar Rp2.000 per kilogram, kini harganya telah mencapai Rp2.400.

Seorang tengkulak jagung dari Dusun Ngeblak Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Darwati (49) mengatakan, naiknya harga komoditas tersebut disinyalir karena segera berlalunya musim penghujan.

Musim pergantian penghujan ke kemarau, lanjut dia, banyak dimanfaatkan petani untuk menanam tanaman palawija, utamanya jagung yang menjadi alternatif bahan pokok selain beras.

“Jagung tidak banyak ditanam petani pada musim tanam kedua ini. Akibatnya, pasokan jagung di pasaran terbilang kurang. Karena itu, begitu musim kemarau datang dan permintaannya mulai banyak, harganya pun melambung,” terangnya.

Ia menyebutkan, harga jagung dalam sepekan terakhir saja telah naik dari Rp2.250 per kilogram menjadi Rp2.400. “Padahal, sebulan lalu, harganya paling mahal hanya Rp2.000 per kilogram,” ujarnya.

Namun, kata Darwati, permintaan masih banyak berasal dari luar daerah. “Kalau soal permintaan, dari petani Rembang belum cukup banyak. Yang mulai banyak permintaan dari petani luar daerah seperti Jatirogo dan Blora,” katanya.

Menurut Supangat, seorang petani jagung di desa setempat, harga jagung wajar saja mengalami kenaikan menjelang datangnya musim kemarau. Namun, lanjutnya, saat ini tidak banyak petani yang bisa menikmatinya.

“Tidak banyak petani yang menanam jagung di desa kami saat ini. Petani baru akan beramai-ramai menanamnya jelang musim kemarau ini,” terangnya.

Menyikapi selalu melorotnya harga jagung di saat musim panen, Supangat berharap pemerintah kabupaten setempat turut membantu pemasaran jagung petani. “Kami berharap ada sentuhan dari pemerintah kabupaten untuk membantu petani jagung, misalnya dengan sentuhan pemasaran dan pelatihan pembuatan makanan olahan jagung,” katanya.

Ia menambahkan, selama ini petani hanya bergantung pada pasar di Blora dan Jatirogo untuk menjual jagung hasil panennya. “Jika pasar di dua daerah itu lesu, sudah bisa dipastikan harga jagung anjlok. Sementara, pasar di Rembang nyaris tidak banyak menyerap hasil panen kami. Kami banyak berharap kepada pemkab untuk membantu pemasaran dan penanganan pertanian jagung,” katanya. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan