Cuaca Panas, Petambak Udang dan Bandeng Kelimpungan

Kamis, 1 Maret 2012 | 08:05 WIB


KALIORI – Petani tambak udang dan bandeng tradisional di Kecamatan Kaliori kelimpungan dan terancam gagal panen menyusul cuaca yang cenderung panas belakangan ini.

Berdasarkan pantauan, Kamis (1/3), sebagian udang jenis windu dan vaname yang ditebar di puluhan hektare lahan tambak milik petani di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, mulai kolaps dan berangsur mati akibat tak kuat menahan panas.

Jika pun ada udang yang masih bisa bertahan, perkembangannya pun tak maksimal. Demikian juga bandeng. “Setiap hari petani selalu menemukan udang yang mati,” kata seorang petani di Dusun Paloh Desa Tasikharjo, Abdul Aziz.

Ia menyebutkan, jika pada menjelang siang hari udang sudah tampak berada di pinggir tambak, maka bisa dipastikan akan ditemukan dalam keadaan mati pada sore harinya.

Menurut dia, cuaca panas yang terjadi belakangan ini membuat kadar garam air tambak meningkat, padahal budidaya udang maupun bandeng membutuhkan air payau dengan kadar garam terukur.

“Akibatnya, petani terancam gagal panen dan bakal menanggung rugi ratusan juta rupiah,” kata dia.

Ia menyebutkan, modal awal banyak terserap untuk pembelian benih, penataan lahan dan pembelian pupuk. “Petani kini membiarkan udangnya mati karena sudah pasrah. Sebab ukuran udang yang rata-rata telah berusia dua bulan itu kurang layak untuk dipanen,” kata dia.

Apalagi, imbuh dia, petani harus mengeluarkan ongkos untuk membeli bahan bakar disel serta membayar upah tenaga panen. “Kami menebar sebanyak 50.000 benih udang pada satu hektare lahan. Jika cuaca normal, kami akan mampu panen udang hingga lima kuintal,” kata dia.

Namun, petani tambak lainnya, Tono mengatakan, sebenarnya para petani telah mengantisipasi ancaman udang stres akibat cuaca panas, dengan memilih udang jenis windu.

“Namun pilihan itu meleset. Cuaca panas ekstrem membuat udang stres dan akhirnya mati. Upaya menyedot air dari laut justru mempercepat kematian udang karena kadar garam air laut yang cukup tinggi,” kata dia. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan