Polisi Panggil Syahbandar Tanjung Bonang Terkait Kasus Solar Ilegal

Jumat, 21 November 2014 | 16:32 WIB
Kapal tongkang sedang memuat material tambang di kawasan Pelabuhan Tanjung Bonang, akhir Oktober 2014. (Foto: Pujianto)

Kapal tongkang sedang memuat material tambang di kawasan Pelabuhan Tanjung Bonang, akhir Oktober 2014. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang memanggil Syahbandar Pelabuhan Tanjung Bonang terkait kasus solar ilegal yang berhasil dibongkar aparat Polsek Sluke pada Sabtu (15/11/2014) malam.

Surat panggilan kepada Dodi Sambodo selaku Kepala Unit Pelaksana Teknis atau Syahbandar Pelabuhan Tanjung Bonang sudah dilayangkan oleh penyidik Kepolisian Resor Rembang pada Jumat (21/11/2014) siang.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Rembang Iptu Eko Adi Pramono mengungkapkan, Dodi Sambodo dipanggil dalam kapasitas sebagai saksi dalam kasus penyalahgunaan sekitar 16.000 liter solar di Pelabuhan Tanjung Bonang.

“(Kepala UPT atau Syahbandar Pelabuhan Tanjung Bonang, Dodi Sambodo) Dipanggil sebagai saksi,” ungkap Eko kepada mataairradio.com ketika ditanya mengenai rencana pemanggilan Syahbandar Pelabuhan Tanjung Bonang terkait kasus penyalahgunaan solar bersubsidi dari Semarang ini.

Kasatreskrim menjelaskan, pemanggilan syahbandar itu berkaitan dengan izin bongkar muat barang di pelabuhan. Seperti diketahui, solar ilegal diangkut masuk ke Tanjung Bonang untuk dioper ke tugboat tongkang. Sebelum berhasil dipindah, polisi berhasil mengagalkannya.

“Kami akan periksa saat yang bersangkutan memenuhi panggilan pada Selasa (25/11/2014) depan ini,” katanya seraya menambahkan bahwa belum ada lagi pihak lain yang segera dipanggil.

Sementara itu, Kapolres Rembang AKBP Muhammad Kurniawan menyatakan, sejauh ini belum ada bukti yang mengarah kepada keterlibatan oknum di internal kepolisian terkait kasus solar ilegal di Tanjung Bonang.

“(Indikasi keterlibatan oknum anggota polisi dari Polda Jateng di kasus solar ilegal yang terbongkar di Pelabuhan Tanjung Bonang), baru sebatas katanya. Artinya, hanya isu, bukan merupakan sebuah keterangan atau informasi yang bisa dijadikan dasar penyidikan,” katanya.

Meski demikian, indikasi tersebut akan tetap perlu didalami. Jika nanti ternyata terbukti ada oknum polisi terlibat, Kapolres Rembang menyatakan akan memprosesnya secara hukum.

Sebelumnya, empat orang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi terkait kasus penyalahgunaan solar bersubsidi di Pelabuhan Tanjung Bonang. Kini mereka mendekam di sel tahanan Mapolres Rembang.

Tersangka pelaku masing-masing GNO (34), warga Jalan Sawah Besar Gang II Kecamatan Gayamsari Semarang selaku pengemudi truk tangki bernomor polisi H 1770 ES dan SRY (39), warga yang sama dengan GNO, selaku pengemudi truk tangki bernomor polisi H 1883 AP.

Adapun dua tersangka lain masing-masing WHY (37), warga Royal Park Kelurahan Sendangmulyo Kecamatan Tembalang Kota Semarang selaku penjual dan SPR (30) warga Kelurahan Magersari Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang selaku pembeli.

Dua truk berikut isinya yang masing-masing 8.000 liter solar telah diamankan sebagai barang bukti. Kedua truk tangki warna biru itu diparkir di halaman Mapolres Rembang dan dipasangi garis batas polisi.

“(Ini barang) dari Semarang, (sengaja dengan) tujuannya Rembang. (Dipakai untuk mengisi) tugboat (penarik tongkang). (Cara membawanya) ya pakai truk tangki ini. (Muatannya) 8.000 liter per truk tangki. (Yang beli) Suparno. Saya tahunya memasarkan saja,” ungkap WHY, salah satu tersangka.

Wakil Kapolres Rembang Komisaris Polisi Wahyu Purwidiarso mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan intensif terhadap para tersangka pelaku, bahan bakar minyak jenis solar bersubsidi sedianya akan dijual ke pelaku industri melalui pelabuhan.

“Solar itu diperoleh dengan cara mengumpulkan sedikit-sedikit dari pengecer. Dibeli dengan harga Rp7.500 per liter. Rencananya akan dijual Rp10.000 per liter. Harga solar industri kan Rp13.000 per liter,” ungkapnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



2 comments
  1. tawon

    November 21, 2014 at 11:42 pm

    si dodi paling2 jawab TIDAK TAHU… Dodi dan Parno sama saja..

    Reply
  2. anto pati

    November 24, 2014 at 10:59 am

    Sudah sering terjadi ini. hanya saja meledaknya barusan. maju terus pak kasatreskrim. bongkar semua. si kakanpel inipun tutup mata / membiarkan permainan GT kapal ikannya bupati lama salim. dimainkan supaya kapal ikannya bupati lama salim bisa dapat subsidi. kapaaaan rembang mau maju?? kalah sama pati. makanya saya ngga mau tinggal di rembang.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan