Tak Hanya Disiksa dan Tak Digaji, TKI Asal Sarang Ditelantarkan

Kamis, 26 April 2012 | 08:35 WIB


SARANG – Penyiksaan terhadap TKI kembali terjadi. Kali ini, seorang tenaga kerja Indonesia berasal dari Desa Tawangrejo, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Sariti (40), dilaporkan telantar di Aceh setelah beberapa bulan bekerja tanpa digaji dan disiksa majikannya di negeri jiran Malaysia.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun suararembang, Kamis (26/4), Sariti yang warga RT 4 RW 2 Desa Tawangrejo tersebut diduga sengaja ditelantarkan agen penyalurnya. Janda tanpa anak ini ditinggal begitu saja di kapal Arlantic Jet Star yang hendak bertolak dari pelabuhan Klang, Selangor-Malaysia menuju Aceh melalui pelabuhan Tanjung Balai (TB) Sumatera Utara.

Selama perjalanan menuju pelabuhan, Sariti hanya berbekal selembar pakaian yang membalut tubuh lusuhnya. Sementara, pakaian-pakaian lain telah dirampas oleh majikannya di Malaysia.

“Saya berada dalam satu kapal dengan Bu Sariti dari Selangor menuju Tanjung Balai pada 19 April lalu. Ia ditelantarkan setelah majikannya di Malaysia itu menyiksa dan tak menggajinya kendati telah beberapa bulan bekerja,” kata Syarbaini, warga Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Nangroe Aceh Darussalam yang menolong Sariti ketika dihubungi suararembang melalui saluran telepon, Kamis (26/4).

Awalnya, kata Syarbaini mengisahkan, sekitar 30 menit sebelum kapal merapat di Pelabuhan Tanjung Balai, dirinya melihat sejumlah perempuan sedang bergantian memperhatikan sebuah paspor.

Saat itu, Beni–panggilan akrab Syarbaini–berpikir kalau mereka sedang diskusi masalah masa berlaku visa tinggal. Namun, sebentar kemudian seorang perempuan berkata “Ini ada TKW asal Jawa Tengah, selama bekerja di Malaysia dia tidak digaji dan selalu disiksa. Tadi agennya mengantar dia pulang. Tapi uang gak dikasih. Semua pakaiannya diambil sama majikannya, orang China. Kasian dari tadi nangis terus”

Sesampainya di darat, Syarbaini mengaku langsung mengajak Sariti menuju kediamannya di Lhokseumawe demi keamanan. “Selama perjalanan ia (Sariti) banyak cerita seputar derita yang dialaminya sebagai TKI di Malaysia,” terang dia.

Sariti, kata Syarbaini, selama perjalanan memang terlihat syok dengan nasib yang menimpanya. “Namun kini kondisi psikologisnya sudah berangsur stabil. Saat ini, kami bahkan berusaha membantu Bu Sariti untuk menyembuhkan kataraknya. Sebab, ia mengaku matanya sering sakit akibat penyakit itu,” terangnya.

Syarbaini juga mengatakan, kendati pernah mendapatkan perlakuan buruk sebagai TKI, Sariti masih menyimpan angan kembali menjadi pahlawan devisa. “Hanya, ia nampaknya lebih mempertimbangkan pilihan pulang ke Jawa untuk sementara waktu. Apalagi, kami berhasil mendapatkan kontak salah seorang warga yang juga berasal dari Rembang dan menyatakan siap membantu kepulangan Bu Sariti,” katanya.

Kepala Desa Tawangrejo, Kecamatan Sarang, Haji Umar mengaku telah menerima kabar telantarnya Sariti tersebut. “Kami telah memanggil keluarga untuk memberikan informasi telantarnya Sariti. Kami juga sudah menghubungi Camat Sarang untuk berkoordinasi,” kata Umar.

Dari informasi yang dihimpun dari warga desa setempat, Sariti telah beberapa kali berangkat mengadu nasib di Malaysia. Hasilnya, Sariti mampu membangun sebuah rumah. Namun, karena dana yang mepet, pembangunan rumah itu pun tersendat sehingga Sariti memilih merantau lagi ke Malaysia. Saat ini, rumah itu dihuni kakak dan adiknya.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Rembang, Sunarto mengaku akan segera melakukan kontak dengan Sariti setelah menerima kabar tersebut.

“Kami belum bisa memastikan apakah Sariti adalah TKI legal atau ilegal. Kami perlu cek ke BNP2TKI. Kami juga belum bisa pastikan apakah akan menjemputnya atau tidak,” ujarnya singkat. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan