Solar Habis, Puluhan Truk Tertahan di SPBU

Sabtu, 20 April 2013 | 17:39 WIB
Puluhan armada angkutan barang tertahan di hampir semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sepanjang Jalur Pantura Kabupaten Rembang. (Foto:AFTA)

Puluhan armada angkutan barang tertahan di hampir semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sepanjang Jalur Pantura Kabupaten Rembang. (Foto:AFTA)

REMBANG, MataAirRadio.net – Puluhan armada angkutan barang tertahan di hampir semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sepanjang Jalur Pantura Kabupaten Rembang, setidaknya hingga Sabtu (20/4) siang sekitar pukul 15.00 WIB. Truk-truk tersebut belum bisa melanjutkan perjalanan karena kehabisan solar.

Di SPBU Tasiksono Lasem, pangkalan parkir yang disediakan pihak pengelola penuh dengan armada. Kebanyakan dari mereka ragu untuk melanjutkan perjalanan karena persediaan solar di kendaraan mereka menipis.

Supervisor SPBU Tasiksono Jazuli saat dihubungi reporter radio ini menuturkan, pasokan solar bersubsidi dari Pertamina sampai dengan siang itu belum datang. Jika pun datang, maka kurang dari empat jam, pasokan solar diyakini sudah kembali habis.

Jazuli pun mengaku tidak bisa membatasi pembelian setiap truk, misalnya dibatasi Rp100.000 atau Rp200.000. Pihaknya tetap mengisi full tank sebagaimana lazimnya kapasitas truk, sebab pernah dirinya membatasi, namun yang dituainya justru ancaman akan dipukuli.

Kondisi tak jauh beda juga terjadi di SPBU Tireman. Sejumlah truk pun terpaksa mangkal sementara di sekitar SPBU untuk menanti kiriman solar. Supervisor SPBU Tireman Muhammad Syafik mengaku kiriman solar bersubsidi baru saja datang sebanyak 16.000 liter, namun hanya dua jam pasokan sudah kembali kosong.

Menurutnya, pada Jumat (19/4) malam hingga Sabtu (20/4) dini hari ada sekitar lima armada angkutan barang yang menginap di SPBU-nya, namun sudah beringsut melanjutkan perjalanan pada pagi hari. Antrean diyakininya akan kembali terjadi selama pembatasan pasokan solar bersubsidi berlangsung.

Senada dengan Jazuli, Muhammad Syafik pun mengaku tidak bisa asal main membatasi tingkat pembelian masing-masing sopir. Jika sopir menghendaki kendaraannya diisi penuh, maka dirinya tak berani menolak tegas.

Sebab alih-alih agar lebih banyak kendaraan yang terlayani, salah-salah operator SPBU bisa dikomplain para sopir bahkan rawan berujung kekerasan. Kerawanan itu menurutnya tidak berlebihan mengingat sopir bisa saja kalap ketika merasa terlalu dibatasi. Belum lagi tidak ada “back-up” pengamanan dari pihak terkait. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan