Nelayan Ronda Malam Antisipasi Perahu Karam

Rabu, 25 Januari 2012 | 09:36 WIB

KOTA – Sejumlah nelayan di pesisir Pantai Kota Rembang terpaksa meronda malam mengantisipasi ancaman perahu karam menyusul ombak setinggi empat meter dan angin berkecepatan 35 kilometer per jam yang melanda Perairan Laut Jawa bagian timur, dua hari terakhir.

Seorang nelayan di Desa Gegunung Wetan, Sukadi, Rabu (25/1) mengatakan, ombak besar di musim baratan ini telah merusak sejumlah perahu nelayan setempat akibat tabrakan antarperahu.

“Saat ombak besar, tali penambat perahu rawan lepas dari jangkarnya. Jika sudah demikian, perahu yang tak tertambat akan menabrak perahu lainnya. Bahkan, perahu yang tanpa kendali bisa saja terguling,” kata dia.

Selasa (24/1) malam, ombak besar merusak setidaknya satu perahu milik Ngatini, warga Desa Gegunung Wetan, hingga mengalami pecah di bagian belakang. Selain itu, belasan perahu lainnya dilaporkan sempat terseret ombak, sebelum akhirnya bisa diselamatkan.

Beberapa nelayan, kata dia, memilih secara bergantian meronda pada malam hari. “Ombak besar bisa datang kapan saja. Jika sudah kantuk berat, biasanya nelayan lain menggantikan. Dan jika ombak besar datang dan mulai mengancam, nelayan peronda akan dengan cepat mengabarkannya,” kata dia.

Selain meronda malam, kata dia, nelayan setempat juga memasang tambahan tali penambat dan memastikan perahu dalam keadaan aman sebelum ditinggal pulang ke rumah.

Ia menyebutkan, saat musim baratan, tidak semua nelayan berangkat menangkap ikan. “Nelayan yang berangkat menangkap ikan biasa menambatkan perahunya pada sore hingga dini hari di pesisir pantai. Sementara, mereka yang tidak melaut, memilih mengevakuasi perahunya ke daratan,” kata dia.

Ada setidaknya sepuluh perahu cokrik milik nelayan setempat yang dievakuasi ke daratan, utara eks TPI Pacar, antara lain milik Kambali, Karjan, Panto, dan Bakrun.

Nurul Yakin, warga lainnya menyebutkan, ronda malam ditempuh untuk menghindarkan nelayan dari kerugian jika perahu mereka sampai rusak diterjang ombak.

“Jika sudah rusak, seperti milik Ngatini, maka ongkos perbaikannya bisa mencapai Rp20 juta. Padahal, harga satu perahu cokrik baru berkisar Rp30 juta. Daripada menanggung banyak kerugian, ronda malam menjadi pilihan kebanyakan nelayan di musim baratan,” kata dia.

Belum lagi, lanjut dia, jumlah tukang lokal yang mahir memperbaiki perahu nelayan sangat terbatas. “Jika tukang lokal tidak ada yang menganggur, perbaikan perahu dilakukan dengan mendatangkan tukang dari Demak dan tentu saja ongkosnya jadi berlipat,” kata dia yang juga seorang tukang perahu. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan