Intimi Perawan Kencur, Jati Terancam 11 Tahun Penjara

Sabtu, 6 Oktober 2012 | 00:30 WIB

SARANG, mataairradio.net – Jati Santoso (23), seorang lajang warga Desa Terjan, Kecamatan Kragan, kini harus merasakan dinginnya dinding bui.

Jati ditangkap basah polisi saat mengintimi seorang perawan kencur (di bawah umur, red.) di kamar sebuah warung kopi di kawasan Kalipang, Sarang, Jumat (5/10) siang sekitar pukul 11.30 WIB.

Kapolres Rembang Ajun Komisaris Besar Polisi Adhy Fandy Ariyanto mengungkapkan, kejadian bermula ketika Jati memboncengkan Melati (bukan nama sebenarnya, red.) yang baru berumur 15 tahun pada sekitar pukul 11.00 WIB.

Mereka memacu kendaraannya ke arah timur (Sarang) tanpa mengenakan helm. Dan untuk diketahui, Melati adalah warga Desa Balongmulyo, Kecamatan Kragan. Ia tercatat masih duduk di bangku kelas 2 sebuah madrasah tsanawiyah di Kragan.

Anggota Polres Rembang yang sedang melakukan patroli rutin siang itu, melihat sepasang remaja mengendarai sepeda motor tak berhelm melintas.

Polisi pun memilih membuntuti. Polisi kemudian melihat keduanya masuk ke sebuah warung kopi di kawasan Kalipang, Kecamatan Sarang. Tim patroli selanjutnya turut masuk ke dalam warung.

Namun aneh, polisi justru tak menjumpai sepasang remaja itu di warung. Sontak, polisi menggeledah sebuah kamar di warung kopi tersebut. Alhasil, polisi mendapati kedua remaja tersebut sedang berhubungan intim.

Lantaran, si perempuan masih di bawah umur, polisi menggelandang Jati Santoso ke Mapolsek Sarang atas tuduhan melanggar Pasal 81 dan 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Jumat (5/10) sekitar pukul 21.00 WIB, Jati Santoso dipindahkan ke tahanan Mapolres Rembang untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Jati Santoso dijerat Pasal 81 dan 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara maksimal 11 tahun,” tegas Kapolres. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan