Petani: Kualitas Tembakau Membaik, Produktivitas Turun

Selasa, 18 Agustus 2015 | 18:13 WIB
Petani tembakau di Rembang. (Foto: Pujianto)

Petani tembakau di Rembang. (Foto: Pujianto)

 
BULU, mataairradio.com – Para petani tembakau di Kabupaten Rembang menyebut kualitas tanaman mereka membaik, tetapi produktivitasnya menurun akibat dari musim kemarau yang berlangsung secara ekstrem.

Penurunan produktivitas disebut mencapai kira-kira 30 persen. Zuhdi, petani tembakau di Desa Lambangan Kulon Kecamatan Bulu, Selasa (18/8/2015) pagi mengatakan, kemarau membuat daun tembakau menguning segar, sehingga kualitasnya baik.

“Tetapi kemarau juga membuat tanaman kekurangan air, sehingga kerdil dan produktivitasnya berkurang. Harapan kami, harga pembelian agar lebih baik dari tahun lalu. Tembakau daun bawah yang tahun kemarin Rp19.000 bisa naik menjadi lebih dari Rp20.000 per kilo,” ujarnya.

Maryono, tokoh petani tembakau di Desa Karangharjo Kecamatan Sulang juga mengatakan, meski tidak memakan banyak, tetapi tembakau tetap butuh air agar pertumbuhannya baik.

“Kemarau parah membuat banyak sumber air macet, sehingga pengairan tanaman tembakau menjadi tidak ideal. Rembang ini butuh banyak lagi embung,” katanya.

Namun kemarau diakuinya ikut menentukan kualitas tembakau menjadi lebih baik dibandingkan tahun lalu. Apalagi petani makin paham tentang cara agar kualitas tembakau terjaga.

“Misalnya dengan melakukan punggal pucuk, agar kadar tar dan nikotin pada daun tembakau tetap sesuai standar pabrik,” tegasnya.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang Yosophat Susilo Hadi mengakui, kualitas tembakau petani musim ini cenderung bagus, tetapi produktivitasnya menurun.

“Musim kemarau menjadi pemicu dari baiknya kualitas sekaligus penurunan produktivitas tembakau petani,” terangnya.

Saat ini, petani tembakau sudah mulai memetik bahkan ada yang sudah merajang daun tembakau. Menurut informasi, pembelian perdana daun tembakau akan dimulai 27 Agustus nanti.

“Tahun ini, ada sekitar 2400 hektare tembakau yang dikembangkan petani di Rembang,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan