Usulan Jalur Lingkar Rembang Kembali Mencuat

Saturday, 13 June 2015 | 16:36 WIB
Ilustrasi macet di jalur pantura Rembang. (Foto: Rif)

Ilustrasi macet di jalur pantura Rembang. (Foto: Rif)

 

REMBANG, mataairradio.com – Usulan agar Kabupaten Rembang memiliki jalur lingkar kembali mencuat. Kali ini mengemuka pada saat rapat koordinasi ekonomi, keuangan, industri, dan perdagangan atau Ekuinda di Lantai IV Gedung Setda Rembang, Jumat (12/5/2015) kemarin.

Saat itu, Kapolres Rembang Ajun Komisaris Besar Winarto melalui Kepala Bagian Operasi AKP Budi Suryanto menyebut permasalahan yang dihadapi soal persiapan Ramadhan dan Lebaran adalah belum adanya jalur lingkar yang mampu dilewati oleh kendaraan bertonase di atas 10 ton.

Budi yang kemudian dihubungi mataairradio pada Sabtu (13/6/2015) pagi mengatakan, kebutuhan jalur lingkar tersebut cukup mendesak. Sebab kini jumlah kendaraan terus bertambah, sementara volume jalan masih tetap.

“Jika kendaraan berat masuk ke dalam kota, maka akan rawan kecelakaan,” ujarnya.

Menurut Kabag Ops, pihaknya sengaja menyentil lagi usulan pembangunan jalur lingkar, agar persoalan klasik potensi kemacetan Pantura tidak terjadi di Rembang.

“Kami sebatas memunculkan usulan tersebut lewat forum, baik yang bersifat resmi maupun tidak,” bebernya.

Dia mengaku belum pernah mengusulkan pengadaan jalan lingkar secara resmi via surat kepada Pemkab. Hal itu bukan karena polisi tidak memiliki hak untuk mengusulkan, melainkan karena tahu kemampuan anggaran dari pemerintah setempat yang terbatas.

Tetapi dari rapat Ekuinda kemarin, Sekda Rembang Hamzah Fatoni sudah memberi sinyal, pengadaan jalur lingkar akan menjadi bagian dari rencana jangka pendek di masa pemerintahan lima tahun mendatang.

“Kemarin Pak Sekda untuk beri sinyal untuk memasukkannya ke rencana jangka pendek pada pemerintahan lima tahun mendatang. Semoga serius,” kata dia.

Kabag Ops menyarankan, jalur lingkar dibuat dalam dua poros. Poros pertama di wilayah Perkotaan Lasem, sedangkan yang kedua di Perkotaan Rembang, yang membentang dari Dresi tembus Pertigaan So Klin.

“Tetapi bisa juga dibuat satu poros dari Dresi hingga Lasem,” katanya.

Sebenarnya soal wacana jalan lingkar, sempat diprogramkan menggunakan jalur laut. Tetapi Budi menilai anggaran yang dibutuhkan terlalu besar. Menurut dia, akan lebih baik menggunakan jalur darat, karena secara biaya diyakini lebih efisien.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan