Dua Warga Dipanggil Polisi Terkait Kasus Kades Bonang

Jumat, 6 Juni 2014 | 15:56 WIB
Balai Desa Bonang Kecamatan Lasem. (Foto:Rif)

Balai Desa Bonang Kecamatan Lasem. (Foto:Rif)

LASEM, MataAirRadio.net – Dua orang warga dipanggil oleh penyidik Kepolisian Resor Rembang berkaitan dengan kasus dugaan penyelewengan Kades Bonang Syaiful Shodikin. Surat pemanggilan keduanya diteken oleh Kasatreskrim Polres Rembang AKP Joko Santoso pada Jumat (6/6) pagi.

Kasatreskrim mengungkapkan pemanggilan dua orang warga ini dilakukan untuk mendapatkan keterangan guna menindaklanjuti aduan dari sejumlah warga Desa Bonang pada 19 Mei kemarin.

Menurut Joko, dokumen yang diserahkan sekelompok warga belum cukup untuk membuat terang kasus dugaan pemalsuan ijazah dan tanda tangan Ketua BPD Bonang. Pemanggilan dua warga yang tidak disebutkan namanya oleh polisi ini dalam kerangka penyelidikan.

Pemanggilan dua orang warga Desa Bonang merupakan tahap awal. Akan ada lagi warga yang diundang, jika keterangan yang diberikan nanti dianggap belum cukup. Kasatreskrim berharap, dua orang warga yang dipanggil ini berlaku kooperatif.

Menurut polisi, jika pun nanti keterangan dari warga dianggap cukup, pihaknya akan kembali melakukan kajian. Telaah ini dilakukan dengan cara mencocokkan keterangan warga terhadap dokumen pendukung.

Apabila bukti telah dianggap memenuhi, maka melalui mekanisme gelar perkara, status penyelidikan akan ditingkatkan ke tahap penyidikan. Ketika sudah disidik, maka sudah akan ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka. Dalam hal ini, Kades Bonang akan dipanggil terakhir.

19 Mei lalu, 23 orang warga Desa Bonang mengadukan Kades Bonang Syaiful Shodikin kepada polisi. Warga mengadukan sang kades karena diduga menggunakan ijazah yang asli tetapi palsu untuk menjadi Kades. Syaiful diduga juga memalsukan tanda tangan Ketua BPD Bonang.

Total ada 10 aduan warga kepada polisi. Kades Bonang Syaiful Shodikin mengaku siap diklarifikasi polisi. Dia juga mengaku tidak tahu mana letak kepalsuan di ijazahnya. Sementara terkait tanda tangan Ketua BPD, memang tidak ditandatangani langsung oleh Masturi karena yang bersangkutan telah meninggal dunia. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan