Dianggap Langgar Aturan, Empat Nahkoda Kapal Ditahan di Kalimantan

Jumat, 6 Juni 2014 | 14:59 WIB
Empat nahkoda kapal cantrang masih mendekam di sel tahanan Polair Polres Kota Baru Kalimantan Selatan. (Foto:Citizen)

Empat nahkoda kapal cantrang masih mendekam di sel tahanan Polair Polres Kota Baru Kalimantan Selatan. (Foto:Citizen)

REMBANG, MataAirRadio.net – Empat nahkoda kapal cantrang, tiga dari Rembang dan satu dari Juwana Kabupaten Pati, ditahan oleh pihak Kepolisian Resor Kota Baru Kalimantan Selatan. Mereka sudah tiga minggu ini mendekam di sel tahanan, karena dianggap melanggar aturan penangkapan ikan.

Nahkoda tiga kapal cantrang dari Rembang itu masing-masing Kaswi dari KM Alam Mina Makmur, Shodiq dari KM Citra Mina Perkasa, dan Hartono dari KM Sumber Sejati. Sementara satu nahkoda kapal cantrang dari Juwana adalah No Ntik dari KM Puji Pangestu 05.

Purwadi, salah satu nahkoda KM Alam Mina Makmur yang kebetulan tidak berangkat kala itu, mengungkapkan penahanan terhadap empat nahkoda kapal tersebut. Dia mengaku sempat 10 hari di Kota Baru untuk mengonfirmasi penangkapan empat kapal berikut nahkodanya ini.

Dari hasil konfirmasinya, para nahkoda merasa tidak bersalah. Sebab, pelanggaran koordinat melaut yang dijadikan alasan petugas untuk menangkap mereka tidak tepat. Mereka melaut pada jarak 47 mil dari daratan terdekat, sedangkan koordinat yang menjadi hak dari petugas daerah setempat, hanya 12 mil.

Anehnya lagi, begitu kasus tersebut diproses oleh pihak yang berwajib, pasal pelanggaran berubah. Mereka kini dianggap melanggar aturan melaut, berupa tidak dimilikinya SIUP dan SIPI melaut. Padahal mereka mengklaim dokumen pelayaran telah lengkap.

Jumat (6/6) siang, petugas telah melepaskan empat kapal yang sempat ditahan dengan ketentuan pinjam pakai. Menurut Purwadi, proses hukum terhadap keempat nahkoda, masih berjalan. Saat ini, pihak pemilik kapal masih menunggu panggilan dari Polres Kota Baru.

Para nahkoda dan awak keempat kapal tersebut berharap, mereka dilepaskan. Pasalnya, penangkapan oleh petugas tidak beralasan. Semua berkas dokumen melaut telah lengkap dan telah ada izin berlayar dari Syahbandar.

Jika pun area melaut mereka dianggap melanggar, mestinya ada pembinaan terlebih dulu, tidak main tangkap saja. Lagi pula, mereka berdalih tidak cukup paham aturan menangkap ikan di laut lepas karena minim sosialisasi dari petugas terkait.

Terkait kasus penahanan empat nahkoda ini, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Rembang belum bergerak. Namun HNSI Pati berusaha mengadvokasi keempatnya. Ketua HNSI Pati Rasmijan menyebut keempat nahkoda kapal tidak terbukti melanggar. Sebab dua alasan yang digunakan untuk menjerat mereka, tidak tepat.

Pihaknya sudah berusaha menjelaskannya kepada petugas di Kalimantan Selatan. Namun mereka bersikeras. Bahkan petugas dari Pusat pun sempat turun membantu nelayan. Lantaran belum ada titik temu, menurut rencana, Pemerintah Pusat akan mempertemukan pihak terkait dari Kalimantan Selatan dan Jawa Tengah. Soal waktunya kapan, HNSI belum mendapat konfirmasi secara pasti. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan