Petani Tebu Rembang Sebut HPP Gula 2014 Picu Impor

Rabu, 7 Mei 2014 | 17:50 WIB
ilustrasi. (Foto:cybex.deptan.go.id)

ilustrasi. (Foto:cybex.deptan.go.id)

REMBANG, MataAirRadio.net – Petani tebu di Kabupaten Rembang menyebut besarnya harga patokan petani (HPP) gula 2014 yang ditetapkan Rp8.250 per kilogram, terlalu rendah. Petani di kabupaten ini menilai, HPP rendah bisa mengakibatkan petani malas menanam lagi tebu sehingga memicu produksi gula nasional merosot dan memberi peluang impor.

Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat Konco Tani Rembang Maryono mengatakan, idealnya harga patokan petani ditetapkan sebesar Rp9.500 mengingat pelonjakan biaya usaha tani. Dia menyebutkan, biaya usaha tani per hektare lahan tebu paling sedikit Rp22 juta, belum termasuk biaya pengolahan lahan dan pemupukan, serta tebang angkut.

Sementara, dengan harga patokan petani sebesar itu, petani paling banyak mendapat pendapatan Rp33 juta. Itu pun jika produktivitas gula per hektare lahan tebu bisa maksimal empat kuintal. Rata-rata produksi gula petani di Rembang hanya tiga kuintal, sehingga tidak memadai.

Maryono yang seorang petani tebu di Desa Karangharjo Kecamatan Sulang juga menyebut perkebunan tebu tahun ini mengalami kelesuan. Ia menjelaskan bahwa petani kesulitan mendapat pinjaman baik dari petani lain atau perbankan, lantaran penurunan HPP gula dan rendemen gula yang turun di musim giling tahun lalu.

Menurutnya, rendemen rata-rata gula dari tebu produksi petani di Kabupaten Rembang hanya mencapai tujuh persen. Catatan ini berbeda dari yang diklaim Pemerintah, yang menyebut dasar penentuan HPP gula 2014 adalah rendemen yang mencapai 8,07 persen.

Petani Rembang sudah mengevaluasinya dengan penataan variteas. Rendemen rendah diduga akibat tebu yang ditanam akhir, ditebang di masa awal giling. Namun ketika ada tebu yang ditanam di akhir dan dipanen di awal giling, rendemennnya bagus, dugaan itu pun terbantah.

Kementerian Perdagangan pada 5 Mei kemarin mengumumkan harga patokan petani (HPP) gula sebesar Rp8.250 per kilogram. Ini sesuai janji kementerian yang akan mengumumkan HPP gula sebelum 15 Mei.

HPP gula itu akan berlaku untuk musim giling 2014. Angka ini jauh lebih rendah dari yang diusulkan Dewan Gula Indonesia sebesar Rp9.500 per kilogram. Menteri Perdagangan M Lutfi menyebut harga gula dunia saat ini cenderung menurun.

Oleh karenanya, harga eceran gula di dalam negeri saat ini menjadi tinggi atau di atas harga kesepadanan untuk impor. Penerapan HPP yang terlalu tinggi dihindari karena dapat mendorong terjadinya rembesan gula rafinasi dan meningkatkan kemungkinan penyelundupan. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan