Cengkeraman Ideologi Asing, Musuh Pemuda Selepas Kolonial

Jumat, 28 September 2012 | 17:03 WIB

Rembang – MataAirRadio.net Tanggung jawab pemuda Indonesia di usia ke-84 Sumpah Pemuda semakin berat. Perjuangan pemuda sekarang ini tidak lagi upaya lepas dari penjajahan kolonial, tetapi lebih pada upaya keluar dari cengkeraman penjajahan ideologi, ekonomi, kebudayaan, dan pemikiran.
Ketua Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor Bidang Dakwah dan Pengembangan Pesantren, Yaqut Cholil Qoumas kepada reporter MataAir Radio, Minggu (28/10), menekankan, kemampuan pemuda dewasa ini mestinya jauh lebih besar dibandingkan pemuda yang mendeklarasikan sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928.
Untuk mewujudkan itu, katanya, kapasitas pemuda perlu ditambah. Jangan mudah tergiur dan kemudian mengadopsi budaya Barat dan Timur, karena bangsa ini memiliki budaya sendiri yang jauh lebih arif dan mulia.

Yaqut Cholil Qoumas yang akrab disapa Gus Tutut itu menambahkan, pemerintah cukup memfasilitasi dan memberi contoh agar kapasitas pemuda bangsa ini bertambah.
Misalnya, dengan tidak memfasilitasi upaya ekonomi yang kreatif karya anak bangsa dan memfasilitasi generasi muda agar bisa menempuh pendidikan yang tinggi. Menurutnya tidak hanya pemerintah, dukungan masyarakat dan keluarga diperlukan dalam mendongkrak kapasitas pemuda.
Gus Tutut pun menyayangkan berkembangnya model demokrasi barat di negara ini. Dipilihnya voting di banyak momen demokrasi seakan memberangus semangat demokrasi berkeindonesiaan yang menganut musyawarah mufakat.

Putra ulama tersohor negeri ini, almagrhfurlah KH Muhammad Cholil Bisri itu mengajak pemuda bangsa ini untuk serius mengabdikan diri kepada negara. Mengutip pernyataan Presiden Soekarno, Bersungguhlah Kalian dalam Mengabdi kepada Negara karena kamu akan menikmatinya. Jika bukan kamu, maka anak atau cucumu.
Ia pun mengajak pemuda bangsa ini untuk kembali ke khittah Indonesia, cita-cita Indonesia yang ingin mewujudkan masyarakat adil makmur dan sejahtera dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan