Pancur Siaga Longsor

Selasa, 24 Desember 2013 | 14:20 WIB
Longsor pada tebing sungai Karaskepoh kecamatan Pancur. (Foto:Puji)

Longsor pada tebing sungai Karaskepoh kecamatan Pancur. (Foto:Puji)

PANCUR, MataAirRadio.net – Wilayah Kecamatan Pancur dikategorikan sebagai daerah merah bencana longsor seiring tingginya intensitas curah hujan belakangan ini. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang menyebut Pancur sebagai daerah siaga longsor.

Kepala BPBD Kabupaten Rembang Suharso mengaku memantau perkembangan kerentanan berbagai bencana secara intensif dengan mengerahkan petugasnya setiap hari ke lapangan. Khusus soal longsor, dia menyebut daerah di dekat sungai bertebing menjadi yang paling rawan.

Menurut Suharso, ada sebagian warga yang tinggal berdekatan dengan sungai bertebing dan rawan longsor begitu hujan deras mengguyur. Selain itu daerah yang berada di areal Perbukitan Pancur juga diminta siaga setiap saat, begitu hujan turun secara deras dan lama.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Rembang mengklaim sudah memastikan kesiapan logistik terhadap kasus bencana tanah longsor. Suharso mengaku telah melakukan koordinasi dengan dinas pekerjaan umum atau DPU terkait penanganan longsor apabila terjadi.

Koordinasi itu di antaranya mengenai kesiapan alat berat untuk membersihkan akses dari longsoran. Sementara mengenai evakuasi korban tanah longsor, secara personel dan peralatan sudah cukup siap.

BPBD menyiagakan empat unit sepeda motor jenis trail dan satu unit mobil reaksi cepat untuk keperluan evakuasi. Petugas di unit trail ini juga secara cepat dan berkala melapor kepadanya mengenai kerawanan bencana di suatu daerah.

Selain Pancur, BPBD juga tengah memantau secara intensif ancaman longsor di Perbukitan Kalilo Desa Gowak Kecamatan Lasem. Sempat muncul rekahan, pihak BPBD menilai belum ada kerentanan yang serius. Namun demikian, Suharso meminta warga setempat tetap waspada.

Kalilo pernah memiliki catatan kelam mengenai bencana tanah longsor. Tiga orang tewas dan sejumlah rumah tertimbun dalam peristiwa longsor pada 26 Februari 2006. Trauma masih menghantui sebagian warga. Kini begitu hujan deras mengguyur, tanpa dikomando mereka telah siaga. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan