Peniadaan UN untuk SD Ancam Motivasi Belajar Siswa

Rabu, 4 Desember 2013 | 15:03 WIB
(Foto:kemdiknas.go.id)

(Foto:kemdiknas.go.id)

SALE, MataAirRadio.net – Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghapus ujian nasional (UN) dan tinggal kelas bagi siswa sekolah dasar (SD) disikapi berbeda oleh kalangan pendidik di wilayah timur Kabupaten Rembang. Sebagian dari mereka mengaku setuju, namun ada menganggap kebijakan tersebut justru akan membuat motivasi belajar siswa menurun.

Kepala SD Negeri 1 Sale Zaenudin mengatakan, rencana penghapusan UN untuk tingkat sekolah dasar memiliki kerentanan tinggi. Kerentanan yang dimaksud adalah motivasi belajar siswa akan menurun karena merasa tidak ada patokan kelulusan. Apalagi untuk siswa Kelas I hingga Kelas V juga tidak lagi diberlakukan tinggal kelas.

Menurut Zainudin, dua kebijakan tersebut memang ada sisi positifnya. Siswa tidak akan memiliki risiko terputus pendidikannya lantaran tidak naik kelas atau tidak lulus sekolah. Hal ini selaras dengan program Pemerintah dalam menyukseskan wajib belajar hingga tingkat SLTP. Zainudin beranggapan, jika kebijakan tersebut sudah final, maka semua tenaga pendidik di tingkat lokal sudah pasti akan menjalankannya.

Sementara itu Lanjar, seorang guru dari SD Negeri Joho menganggap, rencana kebijakan anyar itu akan membuat proses pendidikan di tingkat SD akan lebih efektif. Senada dengan Zainudin, kebijakan tersebut akan tidak lagi menghambat proses pendidikan siswa akibat tidak naik kelas.

Secara pribadi ia mendukung, jika rencana kebijakan tersebut direalisasikan. Menurut Lanjar, pada dasarnya semua siswa memiliki potensi sama untuk berkembang dengan tanpa pandangan negatif terhadap mereka yang tidak naik kelas atau tidak lulus.

Ujian nasional untuk sekolah dasar, sekolah dasar luar biasa, dan madrasah ibtidaiyah mulai tahun 2014 akan dihapuskan. Selain itu, mulai tahun depan juga, tidak ada lagi murid sekolah dasar yang tinggal kelas.

Murid yang belum memahami atau menguasai pelajaran tetap boleh naik kelas, tetapi harus mengulang pelajaran yang belum dikuasainya. Bentuk penilaian rapor sekolah dasar juga berubah, tidak lagi berisi angka-angka, tetapi berbentuk deskripsi untuk menilai sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa peserta didik. (Ilyas al-Musthofa)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan