Pagi Cari Kerja Malam Pulang Bawa Jodoh Siap Nikah

Senin, 26 Juli 2021 | 14:44 WIB

(Dari kiri) Eko Ardianto petugas dari Satpol PP Rembang (Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang) ketika mengantarkan Rofi’in dan Siti Kundari ke rumah Siti, di Desa Pinggan Kecamatan Bulu, Rembang, pada Ahad (25/7/2021) malam. (Foto: Wahyu Salvana).

 

REMBANG, mataairradio.com – Kisah yang dialami perempuan asal Desa Pinggan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang ini terbilang unik.

Ahad (25/7/2021) pagi, sekira pukul 07.00 WIB, Siti Kundari (32) berangkat dari rumahnya yang berjarak sekitar 13 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Rembang.

Kondisi pandemi yang belum menentu kapan situasi ini kembali normal menjadi alasan Siti, panggilan akrabnya, berniat mencari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di Kabupaten Pati.

Pukul 08.30 WIB, Siti sudah sampai di terminal tujuan. Lalu turun dan mencari tempat teduh untuk istirahat sejenak sembari meneguk segarnya es teh di sudut terminal bus di kabupaten sebelah.

Siti tak sadar, kalau tak jauh dari tempat duduknya, ada seorang pemuda tinggi yang sesekali melirik ke arahnya.

Awalnya Siti cuek, tak menghiraukan tatapan mata pemuda itu. Karena memang tujuannya adalah mencari pekerjaan demi menyambung kebutuhan ekonomi.

Lama-kelamaan, Siti merasa ada sesuatu yang membuatnya juga ingin melirik memastikan siapa pemuda itu. Tanpa sengaja, mata mereka pun saling terpaut, bertatapan.

Entah siapa yang memulai, dan siapa yang meminta. Tiba-tiba pemuda yang bernama Rofi’in (34) ini, mendekati Siti. Rofi’in berasal dari Dukuh Gasong Desa Jimbaran Kecamatan Kayen Kabupaten Pati.

Dari situlah akhirnya, percakapan pun terjadi. Meski baru saja bertemu, namun seolah sudah mengenal sangat lama. Candaan, bahkan gelak tawa dari mereka pun sesekali pecah di tengah teriknya udara terminal.

Percakapan semakin akrab, hingga sama-sama saling menceritakan hal-hal pribadi pun seolah tak lagi canggung, meski sama-sama baru saling kenal.

Hingga akhirnya, Rofi’in mengutarakan niat mulianya untuk melamar Siti. Begitu sangat singkat. Ya, memang sangat singkat. Awalnya Siti ragu akan maksud Rofi’in yang ingin meminangnya.

Untuk meyakinkan keduanya, mereka bersepakat menyampaikan kisah itu ke masing-masing orang tuanya. Siti dan Rofi’in pun seolah tak percaya akan jawaban masing-masing orang tuanya.

Jika memang niat mulia itu sungguh-sungguh, langsung saja datangi rumah Siti. Akhirnya Rofi’in pun mengantar Siti ke rumahnya di Rembang.

Status PPKM Darurat yang masih diterapkan oleh Pemerintah menyebabkan jarangnya armada angkutan umum. Sudah dua jam lebih Siti dan Rofi’in menunggu bus yang lewat, namun tak kunjung muncul juga.

Mereka pun sepakat memutuskan untuk menumpang truk, barangkali ada yang mau ditumpangi. Alhamdulillah tak berapa lama, ada juga truk yang mau berhenti dan membawa mereka ke arah Rembang.

Sekira pukul 20.30 WIB mereka sampai di Rembang, turun di depan Taman Kartini. Pemberlakuan PPKM Darurat membuat banyak jalan poros yang ditutup. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk jalan kaki ke arah selatan, arah menuju rumah Siti di Desa Pinggan.

Saat itu jarum jam menunjukan pukul 21.15 WIB, aku tengah berada di warung nasi goreng seberang Kantor Samsat Rembang untuk mengambil pesanan nasi goreng.

Lagi asik menunggu sembari melihat penjual nasi goreng itu membungkus beberapa pesanan, dari arah belakangku terdengar suara perempuan berkerudung dan bermasker. “Mas, ada es teh?”.

Lalu perempuan itu yang tak lain adalah Siti, menanyaiku. “Mas, perempatan Galonan masih jauh ya?”

“Lumayan Mba, sekitar satu setengah kilo,” jawabku.

Aku pun kembali menanyakan kepada Siti, “Lo, memang mau kemana Mba?”

“Mau pulang ke Sulang,”

“Wah, baru saja kawanku yang tadi bawa mobil hijau juga mau ke Sulang. Coba ini tak telpon ya Mba, siapa tahu belum jauh. Nanti tak suruh balik lagi,”.

“Ya Mas, terima kasih!”

Kurang dari lima menit, kawanku Eko Ardianto yang memang hendak bertugas patroli penertiban PPKM Darurat di wilayah Sulang pun muncul. Aku pun menceritakan soal Siti.

Sepeda motor pun terpaksa kutitipkan ke penjual nasi goreng. Aku ikut mengantar Siti dan Rofi’in menuju Sulang. Di dalam mobil, akhirnya aku dan kawanku tahu maksud serta tujuan mereka berdua.

Awalnya mereka hanya akan diantar sampai perempatan Sulang saja. Setelah tahu tujuan mulia mereka, kami pun mengantarnya hingga sampai rumah tujuan.

 

Penulis: Wahyu Salvana
Editor: Mukhammad Fadlil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan