Ganjar dan Yenny Wahid Hadiri Deklarasi Desa Damai

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 19:37 WIB

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, bersama Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid dan Walikota Solo Gibran Rakabuming di sela deklarasi desa damai di Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan-Surakarta, pada Sabtu (9/10/2021). (Foto: mataairradio.com)

 

SURAKARTA, mataairradio.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama dengan Direktur Wahid Foundation, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid menghadiri sekaligus meresmikan Pilar Perdamaian “The Water of Peace”  dan Deklarasi Kelurahan Damai di Tipes, Serengan, Kota Surakarta, pada Sabtu (9/10/2021).

Dalam kegiatan itu, tampak hadir pula Walikota Solo Gibran Rakabuming dan Dwi Yuliawati Fais, salah satu perwakilan dari UN Women, yakni bagian dari organisasi PBB yang bergerak untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan.

Kepada awak-media Gubernur Ganjar mengatakan, program desa damai yang digagas Wahid Foundation dan UN Women itu bisa digabungkan dengan program desa inklusif yang sebelumnya sudah diterapkan di Jawa Tengah.

“Kalau seluruh desa kita bisa bikin kegiatan seperti ini maka insyaALlah desa-desa itu akan jauh lebih nyaman, mereka akan rukun dan di Tipes, Solo ini menjadi contoh,” tuturnya.

Menurut Ganjar, dengan penggabungan program desa damai dan desa inklusif, mampu memudahkan proses pembangunan khususnya di Jateng.

Dengan cara itu, Ganjar melihat masa depan pembangunan Indonesia yang lebih cerah.

“Kalau itu bisa digabungkan, nanti kita tambahi program ini. Maka nanti urusan hubungan antar manusianya beres, mereka aman, mereka seneng, mereka bahagia, mereka tentrem, mesti mbangune enak, karena gotong royongnya biasanya akan kuat sekali,” tandasnya.

Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation selaku salah satu pihak yang menginisiasi menjelaskan, program desa damai sudah ada di 30 desa, sedang 18 desa di antaranya sudah deklarasi.

Salah satu putri Gus Dur ini mengatakan, ada tiga pilar utama yang menjadi bagian dari program desa damai.

Pertama penguatan ekonomi masyarakat. Jadi ada pelatihan, mengajari masyarakat untuk mengatur cashflow.

Kemudian yang kedua, penghormatan pelatihan untuk bagaimana kita bisa menghormati perbedaan keyakinan. Ini perlu ada mekanisme di masyarakat. Misalnya pencegahan konflik.

“Yang ketiga peran perempuan, karena ketika dia lebih berdaya maka mereka akan memberi untuk keluaraga dan lingkungan sekitar,” tutur Yenny.

Pembacaan deklarasi desa damai dilakukan oleh tujuh perempuan mewakili warga desa. Selain itu, diresmikan pula pilar perdamaian “The Water of Peace”.

Pada kesempatan itu, Ganjar dan Yenny Wahid sempat beradu suara dengan menyanyikan lagu berjudul Pancasila.

Lagu yang dibawakan sebenarnya merupakan teks Pancasila. Namun dilantunkan dengan bahasa jawa dengan nada lagu religi terkenal berjudul Tombo Ati.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil

Editor: Mukhammad Fadlil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan