Pengembangan “Nyamplung” Terkendala Pembebasan Lahan

Kamis, 27 Mei 2021 | 16:18 WIB

Objek Wisata Pantai “Nyamplung” di Desa Tritunggal Kecamatan Rembang. (Foto: widodoputrajaya.blogspot.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pengembangan Objek Wisata Pantai “Nyamplung” di Desa Tritunggal Kecamatan Rembang terkendala oleh pembebasan lahan untuk akses jalan masuk.

Salah satu anggota pengelola pantai Mahmudi menjelaskan, dari awal pembangunan jalan khusus untuk akses menuju pantai memang masuk prioritas. Namun karena terbatasnya waktu dan pendanaan, proses pembebasan lahan menjadi tersendat.

Pembangunan jalan khusus untuk akses menuju ke Pantai “Nyamplung” itu, Mahmudi mengungkapkan, nantinya akan melewati sejumlah bidang tanah milik warga yang sudah bersertifikat. Hal itu dinilai membuat proses pembebasan lahan menjadi alot.

“Itu (Proses pembebasan lahan, red.) sudah dirancang oleh pengelola dan BUMDes, namun belum ada titik temu. MoU-nya belum jadi, ini masih akan digarap. Sudah 50 persen. Sementara ya pakai jalan utama yang masuk permukiman itu. Pengunjung keluhannya ya jalan itu saja,” terangnya.

Secara nilai ekonomis, objek wisata ini mampu menghasilkan rupiah senilai Rp10 juta per tahun (Keuntungan bersih). Namun, karena ada konflik internal pengelola, pengembangan wisata Pantai “Nyamplung” menjadi kurang terurus, sehingga menyebabkan pendapatannya menurun.

“Tahun 2019 menurun, karena ada gesekan pengelola, ya itu wajar. Akhirnya 2020 kembali dirombak, Pokdarwis dan pengelola disatukan. Hari Raya kemarin dapat Rp10 juta, tujuh hari. Dapat dari tarif parkir,” imbuhnya.

Seperti dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Rembang, rembangkab.go.id/, Bupati Abdul Hafidz pernah berjanji, Pemkab Rembang akan membantu pembuatan akses jalan menuju Pantai “Nyamplung”, mengingat saat ini pengunjung harus melalui permukiman warga saat ingin menuju pantai.

Hal itu diungkapkan Bupati Rembang Abdul Hafidz saat menghadiri acara “Sea Food Party” di Pantai Nyamplung, pada Ahad, 1 April 2019, silam.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan