Muncul Oplosan, Garindo Tolak Beli Garam Rembang

Kamis, 11 Desember 2014 | 16:47 WIB
Petani garam di Kabupaten Rembang. (Foto:Rif)

Petani garam di Kabupaten Rembang. (Foto:Rif)

 

REMBANG, mataairradio.com – Komoditas garam yang dihasilkan dari media geomembran atau terpal oleh petani di Kabupaten Rembang gagal terserap dalam jumlah banyak ke PT Garindo. Pasalnya, baru melakukan sedikit penyerapan, Garindo sudah menemukan garam geomembran yang dioplos dengan garam tanah.

Padahal, PT Garindo sudah sanggup membeli garam geomembran dari para petani di Rembang dengan harga Rp750 per kilogram. PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) Program Pugar 2014 Rembang Nurida Andante Islami menyebut kasus tersebut sebagai kesalahan yang fatal.

“Kami telah mengarahkan agar pembelian dilakukan melalui koperasi garam yang ada di kabupaten ini. Namun petani lebih memilih, pembelian dilakukan melalui tengkulak. Akibatnya, selain harga dipermainkan menjadi tinggal Rp550, ternyata muncul garam yang dioplos,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi terulangnya kasus yang sama, Dante kembali menyarankan agar koperasi garam dioptimalkan. Menurutnya, PT Garindo masih akan mungkin membeli garam geomembran dari petani Rembang, apabila sudah ada jaminan perubahan sikap, tidak lagi mengoplos.

“Namun petani kami ingatkan agar memilih koperasi yang telah berbadan hukum dan menghindari tengkulak. Menyerahkan pembelian ke tengkulak, akan menyulitkan penindakan jika terjadi kenakalan,” tandasnya.

Di Rembang, menurut Dante, baru Koperasi Tri Daya Abadi Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem yang diberikan fasilitas gudang dan hak menyediakan plastik LDPE untuk para petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) tahun 2014 alias sebagai mitra.

Sutono, petani garam di Desa Tambakagung Kecamatan Kaliori mengaku akan kembali memproduksi garam dengan media plastik LDPE, namun terbatas 400 meter, sesuai geomembran yang diterimanya dari Pemerintah.

Untuk membeli sendiri geomembran, dia menyebutnya masih terlalu mahal untuk ukuran petani di daerahnya. “Memang harga jual garam geomembran di atas garam yang diproduksi dari mejanan tanah, atau selisih Rp100 per kilogram. Namun pengembangannya masih terlalu ribet,” ujar Sutono.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan