Duh! Seperangkat Gamelan Kuno Lasem Segera Dijual Pemiliknya

Sabtu, 2 April 2016 | 18:41 WIB
Gambar seperangkat gamelan pelog kuno lasem yang dinukil dari flyer pergelaran pada 5 April 2016. (Foto: mataairradio.com)

Gambar seperangkat gamelan pelog kuno lasem yang dinukil dari flyer pergelaran pada 5 April 2016. (Foto: mataairradio.com)

 

LASEM, mataairradio.com – Seperangkat gamelan pelog kuno yang umurnya ditengarai sudah lebih dari satu abad diketahui segera dijual oleh sang pemilik di Lawangombo Desa Soditan Kecamatan Lasem.

Padahal gamelan ini menjadi simbol persahabatan dan toleransi budaya Jawa dan Tionghoa.

Rencana menjual gamelan yang dinamai Kyai Nggower ini karena sang perawat, Gandor Sugiharto (70), mengaku sudah tak sanggup lagi merumat karena umur yang sudah tua.

Sementara, gamelan ini dibeli oleh pemiliknya, Soebagio Soekidjan, hanya agar Gandor senang.

“Karena saya sudah tidak sanggup merawat, maka dengan terpaksa, saya serahkan kepada pemiliknya, Pak Soebagio. Dengan berat hati karena saya sudah tua,” ujarnya.

Gandor adalah sahabat karib Soebagio yang berasal dari Keluarga Tjoo. Kepada reporter mataairradio, Sabtu (2/4/2016) siang Gandor mengaku jika dirinya lah yang meminta Soebagio menjual seperangkat gamelan itu.

“Saya memang yang meminta. Saya sudah tidak sanggup merawatnya. Gamelan itu mesti sering dirawat agar tidak lumutan atau jamur. Ijo-ijo gitu,” katanya.

Jika tiba waktunya membersihkan, ia mengaku harus mengerahkan 4 orang untuk membersihkan seluruh perangkat gamelan. Itu pun perlu waktu selama seminggu untuk membersihkannya.

Menurut Gandor yang tercatat sebagai warga Desa Karangturi Kecamatan Lasem, gamelan tersebut terbuat dari bahan kuningan tebal, memiliki motif khas Tionghoa, serta terdapat gambar kelelawar dan burung hong.

“Kedua ragam hias ini konon sebagai simbol kemakmuran dan keindahan,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, seperangkat gamelan itu dibeli oleh Soebagio dari seseorang di Blora. Dalam catatan akta gamelan berbahasa Belanda tertulis tahun 1919 dan dibuat di Solo.

Dari seperangkat gamelan ini ada satu gagang rebab yang diakui Gandor terdapat gading gajah pada bagiannya.

“Iya memang ada (rebab yang terdapat gading gajah pada bagiannya,” ungkapnya.

Sejak dirawatnya, seperangkat gamelan itu hanya dua kali dimainkan di depan khalayak masing-masing pada saat sembahyang tradisi China.

Terkait harga seperangkat gamelan itu jika dijual, Gandor enggan membeberkan karena itu menjadi urusan Soebagio sebagai pemilik.

“Soal harga, saya nggak berani ngomong. Biar yang punya uang saja, pandai-pandainya merayu Pak Soebagio,” ujarnya.

Saat berbincang dengan reporter radio ini, Gandor pun menolak menunjukkan seperangkat gamelan saat itu juga. Ia meminta agar datang lagi saja Minggu (3/4/2016) bertepatan dengan beberapa orang yang datang dari Jakarta.

“5 April nanti, gamelan itu akan ditabuh. Dipentaskan di hadapan masyarakat di Lawangombo,” bebernya.

Menurutnya, bisa jadi, pada saat itu, seperangkat gamelan ini akan ditabuh untuk kali terakhir di Lawangombo dan Lasem karena mungkin saja ada yang membelinya.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemudan dan Olahraga Rembang Muntoha hanya bisa berharap agar gamelan ini tak dijual.

“Ya harapannya tidak dijual,” katanya.

Jika Pemkab Rembang diminta membelinya pada saat ini, ia mengaku tidak kuasa. Sebab dari yang didengarnya seperangkat gamelan ini akan dijual dengan harga yang fantastis, tembus miliaran rupiah.

“Kalau (pemkab) mesti beli, uang dari mana. Itu kabarnya harganya miliaran kok,” pungkasnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil/Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan