Selesai Dipenjara di Pati, Dua Begal Dicokok Polisi Rembang

Kamis, 4 Desember 2014 | 15:38 WIB
Dua orang tersangka perampasan berikut celurit yang digunakan sebagai sarana kejahatan, ditunjukkan oleh Kasatreskrim Polres Rembang Iptu Eko Adi Pramono, Kamis (4/12/2014) pagi. (Foto: Pujianto)

Dua orang tersangka perampasan berikut celurit yang digunakan sebagai sarana kejahatan, ditunjukkan oleh Kasatreskrim Polres Rembang Iptu Eko Adi Pramono, Kamis (4/12/2014) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Dua orang begal dicokok petugas polisi dari Rembang pada Kamis (4/12/2014) pagi, hanya sesaat setelah keduanya keluar dari balik jeruji penjara di Rumah Tahanan (Rutan) Pati.

Keduanya yang lebih dulu ditangkap aparat Polres Pati karena kasus perampasan dengan bersenjata tajam, kini harus berganti mempertanggungjawabkan aksi kejahatan yang dilakukannya di Rembang.

Dua tersangka begal itu masing-masing Deden Lian Pratama (19) warga Desa Gajahkumpul Kecamatan Batangan dan Ahmad Rifai (18) warga Mantingan Kecamatan Jaken Kabupaten Pati.

Keduanya ditahan polisi untuk mempertanggungjawabkan aksi perampasan sepeda motor jenis Honda Vario warna merah milik Nurdiana Marikah (23), warga Desa Tulung Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang yang seorang pegawai honorer RSUD dr R Soetrasno Rembang pada 17 Juni 2014.

“Kami tangkap sesaat setelah keduanya keluar dari Rutan Pati, tadi (4/12/2014) sekitar pukul 08.00 WIB. Kini keduanya kita lakukan proses hukum untuk aksi kejahatan yang dilakukan di wilayah hukum kita,” ungkap Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang Iptu Eko Adi Pramono.

Polisi Rembang mengamankan sarana kejahatan pelaku berupa satu unit sepeda motor jenis Suzuki Satria warna putih dan sebilah celurit yang digunakan untuk mengancam korban, serta hasil kejahatan tersangka berupa satu unit sepeda motor jenis Honda Vario.

“Vario-nya belum sempat dijual karena keburu ditangkap polisi Pati atas aksi kejahatan di wilayah hukum setempat. Sarana kejahatan dan celurit telah kita amankan sebagai barang bukti,” tandasnya.

Kasatreskrim menegaskan bahwa tindak kejahatan yang dilakukan Deden dan Rifai akan dijerat dengan pelanggaran Pasal 365 KUHP yang ancaman pidana penjaranya maksimal sembilan tahun.

Deden yang dikonfirmasi mataairradio.com pada saat gelar perkara tersebut di Mapolres mengaku nekat melakukan perampasan karena hasil dari menjual sepeda motor buah kejahatan, bisa digunakan untuk menambah uang jajan.

“Untuk jajan. (Melakukan tindak kejahatan perampasan dengan menodongkan senjata tajam) Dua kali. Di Rembang satu kali, di Pati satu kali. Yang dari Rembang, belum sempat dijual (sepeda motornya). Celurit hanya untuk menakut-nakuti,” katanya.

Seorang perempuan pegawai honorer RSUD dr R Soetrasno Rembang bernama Nurdiana Marikah (23) menjadi korban kejahatan pada Selasa (17/6/2014) malam.

Sepeda motornya dirampas dua orang tak dikenal di jalanan sepi sebelah timur Kampus STIE YPPI di bilangan Clangapan Kecamatan Rembang, sekitar jam setengah sepuluh malam.

Korban yang hendak pulang dari bekerja merasa telah dibuntuti dua orang berboncengan sepeda motor Suzuki Satria warna putih saat mulai melintasi Jalur Pantura Kota Rembang. Namun warga Desa Tulung Kecamatan Pamotan ini tidak menghiraukannya.

Sesampainya di lokasi kejadian, korban dipepet oleh dua pria berjaket dan bercadar hitam. Korban langsung ditodong dengan celurit ketika berhenti. Sepeda motor Nurdiana dirampas, berikut tas cokelat berisi SIM, KTP, dan STNK kendaraan tersebut. Pelaku kabur ke arah barat.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan