Ratusan Orang Datangi Pengadilan, Minta Warga Dibebaskan

Selasa, 21 April 2015 | 16:04 WIB

Para terdakwa kasus perusakan pagar pengusaha penggergajian, yang merupakan warga Desa Bogorame, saat akan dibawa kembali ke Rutan Rembang, Selasa (21/4/2015), seusai menjalani sidang perdana. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Ratusan orang mendatangi Kantor Pengadilan Negeri Rembang, Selasa (21/4/2015) siang. Mereka meminta agar 6 orang warga Desa Bogorame Kecamatan Sulang yang menjadi terdakwa kasus dugaan perusakan pagar kayu milik seorang pengusaha penggergajian, dibebaskan.

Mereka yang mayoritas warga Desa Bogorame datang dengan menumpang tiga truk dan dua unit mobil pribadi. Tidak ada spanduk yang dibawa. Mereka datang untuk memberi dukungan kepada keenam terdakwa yang menjalani sidang perdana beragenda pembacaan dakwaan.

Enam terdakwa itu masing-masing Sugito, Lasman, Lamijan, Lasmin, Riyanto, dan Karmijan. Tampak di antara warga, Kepala Paguyuban Kepala Desa se-Kabupaten Rembang Jidan Gunorejo. Ia mengaku mendampingi warga karena Kades Bogorame Budi Lestariyono juga terlibat dalam kasus perusakan ini.

“Kami akan mengawal terus persidangan ini. Hakim harus memutus perkara ini nanti secara adil dengan mempertimbangkan keadilan sosial. Ini solidaritas kami sebagai sesama kepala desa,” ujarnya.

Menurut Jidan, penegak hukum mestinya melihat aspek sosial dalam menangani kasus ini. Apalagi yang diinginkan warga adalah mendapatkan terusan jalan yang terhalang oleh pagar kayu milik perusahaan penggergajian. Seperti diketahui, pagar kayu berdiri di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Lahan KAI itu disewa oleh Basis, seorang pengusaha penggergajian. Namun warga yang waktu itu didampingi Kepala Desa Bogorame Budi Lestariyono mengklaim bahwa tanah itu adalah milik desa karena dulunya dipakai sebagai jalan setapak. Pihak desa mengklaim berdasarkan peta desa.

Aksi tersebut oleh warga disebut bukan bermaksud merusak karena semata ingin melanjutkan program pembangunan jalan umum guna akses warga Desa Bogorame dan Pranti, yang kebetulan melintasi usaha Basis. Jidan menegaskan, upaya warga mendatangi pengadilan hanya demi asas praduga tak bersalah.

“Pendekatan kepada penasehat hukum warga, telah kami lakukan. Ini bukan bentuk menyangkal hukum. Dukungan warga ini hanya untuk menghargai asas praduga tak bersalah,” tegasnya.

Sementara itu, penasehat hukum Basis, Edi Heryanto pernah menyebut bahwa kliennya banyak dirugikan baik moril maupun materiil. Selain perusakan, ia pun menyebut bahwa kliennya dirugikan akibat pemblokiran akses depan rumah dan penggergajian oleh massa di bawah kendali Kades Bogorame.

Basis menilai apa yang terjadi terhadapnya itu sudah keterlaluan, sehingga akhirnya menempuh jalur hukum. Namun warga menganggap Basis juga turut memanfaatkan jalan yang diinginkan warga itu, sebagai jalur pintas. Hanya memang, antara Basis dan Budi Lestariyono, pernah terlibat sentimen pribadi.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan