Petani Siwalan Rembang Ogah Turun Harga Meski Panen Raya

Minggu, 6 Juli 2014 | 14:52 WIB
Petani pohon siwalan. (Foto:Tarom)

Pedagang buah siwalan. (Foto:Tarom)

SULANG, MataAirRadio.net – Para petani pohon siwalan di Kabupaten Rembang mengaku ogah menurunkan harga komoditas siwalan dan legen, meski sedang berlangsung panen raya. Keengganan menurunkan harga ini karena permintaan siwalan dan legen semakin ramai, seiring bulan Puasa.

Suharto, seorang petani siwalan di Desa Bogorame Kecamatan Sulang mengatakan, setiap hari terutama saat sore hari, ratusan orang datang dari berbagai daerah untuk berburu legen. Tingginya permintaan legen dan buah siwalan masih bisa dipenuhi, karena saat sekarang sedang puncak masa panen.

Dia pun lantas membandingkannya dengan bulan Puasa tahun lalu, dimana ketika itu, musim panen sudah hampir habis. Petani seperti dirinya, menjual satu bungkus siwalan dengan harga Rp4.000, namun jika sudah sampai ke tangan pedagang, harganya bisa Rp5.000 bahkan Rp6.000.

Lamijan, petani siwalan lainnya di desa itu menambahkan, pohon siwalan menjadi sumber alternatif penghidupan warga, selain bertani jagung dan kacang. Sebab, tanpa perawatan khusus, pohon siwalan bisa mendatangkan uang sejak bulan Mei hingga Oktober atau ketika petani sudah tak lagi menanam padi.

Menurutnya, petani memanen siwalan dan mengunduh nira atau legen dari pohon, di sela aktivitas bertani dan beternak. Untuk mengambil siwalan, petani melakukannya tiga kali dalam sehari atau pada pagi, siang, dan sore hari, sedangkan legen dua kali saja yakni pada pagi dan sore hari.

Dia menyebutkan, warga di kampungnya, mayoritas memiliki pohon siwalan. Jumlahnya beragam, ada yang sampai 60 pohon per orang, tetapi ada yang hanya lima pohon. Legen atau getah sulur bunga pohon siwalan konon mengandung cairan isotonik sehingga menyegarkan tubuh bagi yang meminumnya.

Sripah, penjual legen dan siwalan di bilangan Jalan Bogorame-Landoh mengakui, tingkat permintaan memang sedang ramai. Warga yang datang berburu legen dan siwalan berasal dari Blora, Pati, Kudus, dan Bojonegoro, selain yang dari Rembang.

Dia juga mengaku mengambil keuntungan rata-rata Rp1.000 per botol legen dan per bungkus buah siwalan setiap kali menjual. Satu orang kadang membeli hingga 10 botol legen dan 20 bungkus buah siwalan. Dia menjual legen; Rp5.000 per botol, sedangkan buah siwalan; Rp6.000 per bungkus.

Menurut Sripah, mereka yang telah terbiasa mengonsumsi legen, akan dengan cukup mudah membedakan antara legen yang langsung dari pohon, dan yang sudah dimasak alias telah ditambah gula. Legen asli memiliki citarasa yang manis kecut, tidak legit atau manis sekali. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan