Pemerintah Kasih “Shock Therapy” Penyemprotan Bagi Warga Untuk Tegakkan Disiplin PPKM Darurat

Jumat, 9 Juli 2021 | 20:52 WIB

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemkab Rembang, Arief Dwi Sulistya. (Foto: mataairradio.com)


REMBANG, mataairradio.com – Upaya penyemprotan terhadap masyarakat yang ngeyel melanggar PPKM Darurat Jawa-Bali merupakan upaya shock therapy yang dilakukan oleh pemerintah.

Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemerintah Kabupaten Rembang, Arief Dwi Sulistya, Jumat (9/7/2021) malam.

Menurutnya, penegakan disiplin dengan cara yang humanis terhadap masyarakat yang selama ini pihaknya terapkan justru masih ditawar dan disepelekan.

Ia mengungkapkan, saat petugas melaksanakan operasi yustisi, banyak para pedagang yang pura-pura tutup, namun sesaat setelah petugas meninggalkan lokasi, kemudian para pedagang kembali membuka lapak dagangannya.

“Itu sebenarnya untuk shock therapy bagi pengusaha, pedagang, masyarakat. Selama ini penegakan disiplin yang relatif humanis banyak ditawar dan disepelekan. Saat operasi pura-pura tutup, setelah itu (tetep) buka lagi. Bisa jadi tempat itu (Warung mie ayam Pamotan, red.) ketiban sial saja kena semprot,” terangnya.

Baru-baru ini, sebuah warung bakso dan mie ayam di Kecamatan Pamotan disemprot air oleh petugas Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemkab Rembang, lantaran dinilai melanggar aturan, karena membuka jam pelayanan melebihi batas waktu yang ditentukan.

Saat disinggung ihwal insiden penyemprotan warung di Pamotan pada Senin (5/7/2021) lalu, Dwi mengaku tidak tahu bagaimana kronologi kejadiannya.

“Saya tidak tahu kronologisnya,” katanya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil

Editor: Mukhammad Fadlil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan