Warga Pasucen Beramai-ramai Bangun “Kampung Kebo”

Kamis, 10 Juli 2014 | 15:47 WIB
Seorang gembala dari Desa Pasucen Kecamatan Gunem hendak membawa kerbau piaraannya ke lahan hutan, Kamis (10/7) pagi. (Foto:Pujianto)

Seorang gembala dari Desa Pasucen Kecamatan Gunem hendak membawa kerbau piaraannya ke lahan hutan, Kamis (10/7) pagi. (Foto:Pujianto)

GUNEM, MataAirRadio.net – Warga Desa Pasucen Kecamatan Gunem beramai-ramai membuat bangunan rumah untuk ternak kerbau mereka. Jika sebelumnya, kerbau milik warga ditempatkan satu kompleks dengan rumah tinggal mereka, kini dipisahkan jauh dari permukiman atau dirumahkan tersendiri.

Pilihan untuk memisahkan rumah atau kandang kerbau dengan rumah tinggal penduduk ini dilakukan untuk menekan kekumuhan lingkungan. Apalagi 22 dari 311 keluarga di desa ini memelihara kerbau dengan jumlah piaraan masing-masing dua hingga belasan ekor.

Bambang Suratman, salah seorang warga Desa Pasucen menjelaskan, saat masih ditempatkan satu kompleks dengan permukiman penduduk, hampir setiap sudut kampung terdapat kotoran kerbau menggunung dengan bau menyengat. Dulunya, kerbau dilepas begitu saja di hutan untuk berminggu-minggu.

Sudah sejak lima tahun lalu dan sampai sekarang ini, warga pemilik kerbau membuatkan “kampung kebo” dengan kandang-kandang sederhana namun kuat. Satu kandang dibangun dengan biaya paling sedikit lima juta rupiah. “Kampung Kebo” ini berada di sebelah barat Desa Pasucen.

Isnani, Sekretaris Desa Pasucen membenarkan, dulunya, jalanan di kampung banyak diceceri kotoran kerbau. Jumlah kotorannya begitu banyak dan setiap kerbau hanya mau membuang kotoran di kawasan yang pernah dibuangi sebelumnya. Namun sekarang, warga beramai-ramai sadar kebersihan.

Mereka yang memiliki enam ekor kerbau, kini membuat kandang di luar desa, dalam satu “kampung” atau koloni, dengan ukuran 6×9 meter. Sementara mereka yang memelihara 10 kerbau atau lebih, membuat kandang dengan ukuran 8×12 meter. Umumnya, tanah yang dipakai untuk kandang adalah lahan tegalan milik peternak sendiri.

Menurut Isnani, meski ditempatkan tersendiri, namun warga pemilik kerbau menjamin keamanan ternaknya. Sebelum ditinggal pada malam hari, mereka melakukan kemit hingga tengah malam dan segera kembali pada pagi buta. Ternak kerbau diandalkan petani Pasucen untuk menggarap lahan pertanian.

Di Kabupaten Rembang, hanya Pasucen yang masih memiliki banyak kerbau. Mayoritas populasi kerbau di kabupaten ini, berasal dari Pasucen. Sejumlah kalangan memimpikan Pasucen sebagai kawasan agrowisata atau wisata pertanian.

Wisatawan bisa datang ke kampung ini untuk “angon kebo” dan mengerjakan kegiatan rekreatif seperti balap kerbau dan perayaan berkah desa. Sayangnya hal itu kurang mendapat perhatian, baik oleh pemerintah desa maupun pemerintah daerah. (Pujianto)




One comment
  1. torik

    Juli 10, 2014 at 7:19 pm

    Program yang sangat bagus,.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan