Para Siswa Ini Tak Mau Dolanan Anak Punah

Selasa, 12 April 2016 | 13:31 WIB

dolanan anak rembang

 

REMBANG, mataairradio.com – Ratusan anak yang merupakan siswa dari berbagai sekolah dasar di Kabupaten Rembang mengikuti lomba dolanan anak di Sanggar Budaya, Kompleks Museum Kartini Rembang, Selasa (12/4/2016).

Mereka antara lain menyatakan tak mau dolanan anak punah oleh serbuan aplikasi permainan di telepon seluler (ponsel) atau game di play station. Antusiasme tampak di wajah mereka ketika panitia memulai perlombaan dengan memanggil peserta, satu per satu.

Di antara yang diperlombakan adalah jamuran. Dolanan anak ini biasa dimainkan anak-anak yang berjumlah 4-10 orang. Salah satu anak yang kalah undi mesti berdiri di tengah, dikepung melingkar oleh misalnya tiga anak lain.

Tiga anak itu kemudian menyanyikan tembang jamuran sambil berjalan memutar dan begitu sampai di akhir lagu, satu anak yang berdiri di tengah meminta memeragakan “jamur” tertentu. Misalnya gagak. Maka tiga orang yang memutari, mesti memeragakan gagak.

Jika ada yang tidak bisa memeragakan, maka anak yang bersangkutan mesti menggantikan berdiri di tengah, sedangkan yang tadinya berdiri ganti mengepung melingkar. Begitu seterusnya sampai permainan dianggap cukup.

“Biasanya kalau di sekolah, main jamuran saat istirahat. Kalau di rumah, biasanya pas hari minggu,” ujar Muhammad Bustami Arifin, salah seorang siswa dari SD Negeri 1 Pamotan.

Karena sudah biasanya bermain jamuran bersama kawan-kawannya, maka ketika sekolah memutuskan mengikuti lomba dolanan anak di Sanggar Budaya Rembang pagi itu, ia mengaku hanya berlatih tiga hari.

“Tiga hari saja latihan. Milih jamuran, ya biar mengenang merasakan zaman orang-orang dulu. Nggak (suka) main game di HP,” akunya yang diamini empat orang teman laki-lakinya, di sela menanti giliran lomba.

Pada lomba tersebut, Arifin dan kawan-kawannya juga akan menyanyikan lagu “padang bulan”. Mereka pun tampak membawa dua jenis perangkat gamelan, yaitu satu gong dan satu peking.

Mulkasanah, Kepala SD Negeri 2 Gambiran menambahkan, lomba dolanan anak penting untuk melestarikan permainan tradisional, sekaligus untuk melatih mental dan karakter anak.

“Anak jadi berani tampil di depan umum. Melatih mental. Kalau bisa digelar rutin tahunan,” ujarnya.

Seperti siswa dari SD Negeri 1 Pamotan, anak didiknya juga akan menampilkan dolanan jamuran dan jaranan. Pun tak butuh waktu lama buat latihan karena hanya seminggu melakukan persiapan lantaran siswa biasa dolanan.

“Anak-anak masih suka dolanan kayak jamuran. Kalau main game di HP, kok nggak ya. Soalnya mereka pulang sekolah juga ngaji dan madrasah. Jadi nggak ada waktu kluyuran,” tandasnya.

Lomba dolanan anak tingkat Kabupaten Rembang diprakarsai oleh pihak Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga setempat sebagai rangkaian “Gema Kartini” 2016.

Selain lomba dolanan anak, pada hari yang sama, digelar pula lomba karawitan putri untuk kaum ibu di Kabupaten Rembang. Digelar juga lomba Tari Gamyong tingkat SMA se-Kabupaten Rembang dan lomba membaca Riwayat Kartini untuk siswa SMP se-kabupaten ini.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan