Nelayan Curi-curi Kesempatan Melaut saat Cuaca Buruk

Jumat, 25 Desember 2015 | 16:34 WIB
Perahu milik nelayan kecil di Perairan Laut Rembang. (Foto: Pujianto)

Perahu milik nelayan kecil di Perairan Laut Rembang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Sejumlah nelayan di Pesisir Pantai Kota Rembang terpaksa harus curi-curi kesempatan untuk melaut pada saat cuaca buruk seperti saat ini.

Langkah berisiko itu ditempuh agar mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Lukman, seorang nelayan di Desa Sukoharjo mengaku tiga hari libur setelah itu sehari melaut, guna menyikapi kondisi cuaca buruk.

Ia pun mengisi hari liburnya melaut dengan “banting setir” menjadi kuli bongkar ikan dengan upah Rp50 ribu per hari.

“Bagi kami, itu solusi daripada libur total,” terangnya.

Rusmanto, nelayan lainnya di Desa Kabongan Lor mengakui, sebagian rekannya memaksa melaut, meski bertaruh nyawa dengan cuaca buruk.

Tapi ia pun tidak memungkiri, sebagian nelayan lain, kini beralih profesi menjadi buruh bongkar di Pelabuhan Tasikagung.

Menurutnya, cuaca buruk seiring musim baratan, baru saja dimulai. Kemungkinan masih akan berlangsung selama dua bulan ke depan.

Dia sendiri sempat melaut, namun keburu terjebak cuaca buruk, sehingga baru dapat tangkapan ikan 2 kilo, harus segera pulang menyelamatkan diri.

“Sementara saya menyambi mengerjakan pesanan pembuatan jaring dari nelayan di Tasikagung,” bebernya.

Sementara itu, sejumlah nelayan di Tasikagung, yang mencuri-curi kesempatan melaut saat cuaca buruk, justru berurusan dengan polisi.

Bukan soal kengototan nelayan dalam melawan gelombang tinggi, melainkan karena mereka nekat berlayar, tanpa izin lengkap dari otoritas berwenang.

Nelayan mengaku sudah beritikad baik dengan akan mengurus izin ke polisi perairan, tetapi tanggal 24 dan 25 Desember ini, libur, sehingga diduga pihak terkait tidak membuka layanan.

Giliran mereka memaksa melaut, polisi melakukan razia dan mengamankan beberapa dokumen lain berlayar.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan