Manajemen Baru RBSJ Belum Tampak Melakukan Pergerakan

Senin, 9 Januari 2017 | 15:30 WIB

Pabrik gula mini di Desa Bangunrejo Kecamatan Pamotan, salah satu aset PT RBSJ. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Komisaris dan Direksi baru PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ) sudah ditetapkan pada 30 Desember lalu oleh Pemerintah Kabupaten Rembang. Namun sampai Senin (9/1/2017), manajemen baru belum tampak melakukan pergerakan.

Direktur baru PT RBSJ Arif Budiman yang dihubungi mataairradio.com mengaku masih harus fokus menyelesaian persoalan-persoalan internal dari perusahaan milik daerah itu seperti kontrak-kontrak kerjasama, orang-orang di tubuh perusahaan, dan pendataan aset-aset.

Menurutnya, sejumlah persoalan di internal perusahaan tersebut masih seperti benang ruwet. Ia mengaku masih mempelajari detailnya. Soal belum tampak bergerak, hal itu katanya lantaran dirinya juga belum mendapat SK resmi dan pelantikan.

“Kalau kita mau bicara outward looking (pengembaran perusahaan keluar, red.), sementara kondisi internalnya masih ruwet, akan nggak bisa maksimal. Kalau persoalan internal sudah diurai, baru bisa diketahui mana yang bisa disehatkan dan yang tidak,” katanya.

Ia menargetkan, dalam tiga bulan ke depan atau dalam trimester pertama 2017, benang ruwet mengenai kontrak-kontrak, personalitas, dan pendataan aset, sudah akan beres terurai. Soal penambahan modal segar, Arif memandang perlu hal itu, tetapi nanti di tahap pengembangan.

“Dalam konteks penyehatan perusahaan nggak perlu dana, tapi kalau soal pengembangan perlu dana. Tapi sedapat mungkin tak memberatkan APBD karena RBSJ sudah terlalu banyak merugikan daerah. Yang jelas kalau aset-aset bisa diselamatkan, bisa untuk modal,” paparnya.

Pada kesempatan terpisah, Bupati Rembang Abdul Hafidz mengatakan bahwa direktur baru harus melakukan audit cut off atau pisah batas soal pengelolaan perusahaan termasuk urusan keuangan, agar masalah yang lalu tidak dipersoalkan pada era manajemen yang sekarang.

“Kalau soal aset, yang lancar sekitar Rp31 miliar. Tapi kita masih punya aset bermasalah berupa 30-an bidang tanah. Kalau diuangkan maka aset total sekitar Rp40-50 miliar. Tapi kami tidak bisa memastikan karena menunggu putusan inkrah dari penegak hukum,” katanya.

Mengenai penambahan modal segar bagi RBSJ, Hafidz mengaku belum ada pembicaraan bahkan pemikiran. Manajemen baru masih harus urus identifikasi mengenai mana usaha dari perusahaan yang layak dan yang tidak layak.

“Untuk usaha gula mini, saya sarankan dikerjasamakan. Tanggal 20 desember lalu ada investor dari Jakarta yang ingin kerjasama memanfaatkan bangunan pabrik gula mini. Kerjasama sifatnya apa, saya belum tahu sejauh itu. Tahunya ada penjajakan awal,” ungkapnya.

Bupati pun membeberkan bahwa tanah hasil reklamasi seluas 8,1 hektare di Pelabuhan Tanjung Bonang Sluke yang merupakan hasil usaha dari anak perusahaan PT RBSJ, belum memiliki kontribusi bagi daerah.

“Tanah HPL 8,1 hektare itu belum memberi andil kontribusi bagi daerah. Tanah HPL akan kita serahkan ke Kementerian Perhubungan. Nanti kita dapat bagi hasil. Aturannya begitu,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan