‘Kampung Iniori’ Konservasi 35 Spesies Bambu Satu-satunya di Jateng

Minggu, 7 Agustus 2022 | 12:25 WIB

Dias Eko Erry Akhmadi salah satu tokoh penggerak ‘Kampung Iniori’ sedang menyirami tanaman bambu di ‘Kampung Iniori’, Jumat (5/8/2022) lalu. (Foto: Mukhammad Fadlil)

KALIORI, mataairradio.com – ‘Kampung Iniori’ di Dukuh Klori Desa Tambakagung, Kecamatan Kaliori, Rembang, Jawa Tengah merupakan salah satu destinasi wisata berbasis edukasi. Di sana pihak pengelola melakukan konservasi atas beragam jenis pohon bambu.

Dias Eko Erry Akhmadi salah satu tokoh penggerak ‘Kampung Iniori’ saat ditemui mataairradio.com, pada Jumat (5/8) lalu menyebutkan, ada sebanyak 35 spesies atau jenis pohon bambu yang pihaknya lestarikan.

Beberapa di antara jenis pohon bambu yang dilestarikan itu adalah; Pring Ori, Mini Fern, Oldami, Nigra, Latiflorus, Zigzag, dan Legi. Kemudian, Cendani, China Gold, Nirihara, Duri Barbelota, China Pagar, Petung Hitam, Balku, Colombia Berduri, serta Petung Jawa.

Lalu ada lagi jenis yang lainnya, seperti; Buddha, Sembilang, Shimadoi, Hamilton, Wulung Hitam, Balku Copensis, Apus/Tali, Pagar Kristik, Ampel, Gading, Gold Stripe, dan Wulung serta Biru Mini.

Erry menjelaskan, warga di Dukuh Klori secara swadaya mendirikan ‘Kampung Iniori’ di lahan milik desa seluas setengah hektare pada tahun 2021. Tujuan utamanya adalah pelestarian alam sekaligus edukasi bagi masyarakat, khususnya untuk para generasi penerus bangsa.

Erry mengklaim, ‘Kampung Iniori’ merupakan tempat pelestarian pohon bambu satu-satunya di Jawa Tengah dengan ragam jenis yang paling banyak.

“Bahkan (Kampung Iniori) ini satu-satunya di Jawa Tengah dengan (spesies) bambu yang banyak. Mayoritas pohon di desa ini didominasi pohon bambu, keseluruhan ada 100 dapur lebih pohon bambu. Semangatnya dari situ,” ungkap Erry.

Menurut Erry, masih adanya pohon bambu dengan jumlah yang lumayan banyak membuat mataair di desanya tetap terjaga. “Sumur di sini itu cukup dengan kedalaman tiga sampai empat meter sudah keluar airnya, tapi payau,” terang Erry.

Wisata ‘Kampung Iniori’, kata Erry belum pihaknya resmikan, sebab masih ada beberapa persiapan yang masih perlu diselesaikan. “Ada hal yang masih perlu ditambahkan, kepengurusan Pokdarwis, tempat resto maupun pasar, dan fasilitas pendukung; mushola dan spot bermain anak,” pungkasnya

Pantauan mataairradio.com di lokasi, memang kondisinya masih sepi belum ada pengunjung sama sekali, terdapat satu bangunan utama yang cukup sederhana digunakan sebagai sekretariat, serta ada dua unit gazebo dan sejumlah wahana berupa hiasan untuk swafoto.

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan