Hakim Kabulkan Alih Status Tahanan Warga Bogorame

Rabu, 13 Mei 2015 | 17:34 WIB
Terdakwa, warga Desa Bogorame Kecamatan Sulang, terdakwa kasus pengerusakan pagar milik Basis, pengusaha penggergajian yang juga warga desa setempat. (Foto: Pujianto)

Terdakwa, warga Desa Bogorame Kecamatan Sulang, terdakwa kasus pengerusakan pagar milik Basis, pengusaha penggergajian yang juga warga desa setempat. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rembang mengabulkan permohonan alih status tahanan enam warga Desa Bogorame Kecamatan Sulang yang menjadi terdakwa dalam kasus pengerusakan pagar milik Basis, seorang pengusaha penggergajian yang juga warga desa setempat.

Keenam terdakwa tidak lagi menjadi tahanan rutan, tetapi menjadi tahanan kota. Hal itu ditetapkan oleh Majelis Hakim yang diketuai oleh Antyo Harri Susetyo pada persidangan, Rabu (13/5/2015) siang.

Tri Wulan Larasati, salah satu anggota penasehat hukum keenam terdakwa mengaku bersyukur atas dikabulkannya permohonan tersebut. Namun keenam terdakwa tetap terikat syarat.

“Dilarang membolos dari persidangan dan menghilangkan barang bukti. Kalau ke luar kota juga mesti izin. Jika melanggar, status tahanan kotanya akan dicabut,” terangnya.

Budi Supriyatno, ketua tim penasehat hukum keenam terdakwa menambahkan, persidangan kali ini tidak membahas eksepsi dari mereka yang duduk pada kursi pesakitan. Penafsiran tentang kasus pengerusakan pagar untuk kepentingan jalan umum sebagai perkara perdata, tidak masuk putusan sela.

“Tentang eksepsi terdakwa yang menganggap perkara tersebut mestinya disidangkan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), baru akan diperiksa sebagai materi pokok pada persidangan lanjutan, pekan depan,” urainya.

Menurut Budi, dikabulkannya permohonan pengalihan status tahanan dari tahanan rutan menjadi tahanan kota, merupakan pertimbangan hakim. Bisa saja, Majelis Hakim menggunakan psikologi, kemanfaatan, dan pertimbangan kemanusiaan, untuk menetapkan alih status tahanan seorang terdakwa.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus tersebut Sukarmin menolak permintaan penasehat hukum agar status tahanan para terdakwa diubah dari tahanan rutan menjadi tahanan kota. Jaksa berdalih pengalihan status tahanan bisa mempersulit jalannya persidangan karena terdakwa berpotensi absen.

Sementara itu, seperti pada persidangan sebelumnya, ratusan warga Desa Bogorame terpantau datang, memadati kantor pengadilan negeri. Anggara, salah satu warga Desa Bogorame mengaku bersyukur atas penetapan pengalihan status tahanan para terdakwa. Dia juga berharap, para terdakwa dibebaskan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan