Tahun Ajaran Baru, Penerapan PTM Tunggu Pasca Zona Merah

Rabu, 30 Juni 2021 | 21:07 WIB

Dua anak laki-laki siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Terjan, di Desa Terjan Kecamatan Kragan, sedang mengenakan masker dan seragam sekolahnya, meskipun tidak sedang masuk sekolah. (Foto: Riza Rino Lanuardy.)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pelaksanaan Pembelajaran secara Tatap Muka atau PTM, pada menjelang tahun ajaran baru 2021-2022 di Kabupaten Rembang masih menunggu selesainya zona merah. Pasalnya, saat ini Rembang masih dalam zona merah covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Rembang, Mardi menerangkan, sesuai dengan instruksi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bahwa tahun ajaran baru ini nanti akan ada pembelajaran tatap muka secara terbatas.

Teknik pelaksanaannya adalah, PTM dilakukan selama dua jam per hari serta dua hari dalam satu minggu, dengan ketentuan 25 persen siswa yang diperbolehkan masuk dari total keseluruhan siswa.

“Terkait pembelajaran tatap muka di jenjang Paud, SD, dan SMP, ada instruksi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bahwa tahun ajaran baru 2021-2022 ada pembelajaran tatap muka secara terbatas. Sudah ada rambu-rambunya, satu minggu dua hari, satu hari dua jam. Yang masuk sekitar 25 persen,” tuturnya.

Untuk itu, Mardi mengaku sudah melakukan koordinasi dengan jajaran kepala sekolah, agar ancang-ancang untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan dalam pelaksanaan PTM nantinya.

Penerapan Pembelajaran Tatap Muka, juga diperkuat aturannya dengan instruksi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), bahwa daerah yang boleh melaksanakan PTM adalah kabupaten yang tidak dalam kondisi zona merah covid-19.

“Kami sudah koordinasi dengan kepala-kepala sekolah untuk bisa mempersiapkan diri, untuk besok pembelajaran tatap muka pada tahun ajaran baru. Kemudian ada instruksi lagi dari Kementerian Dalam Negeri, pembelajaran tatap muka bisa dimulai di tahun ajaran baru 2021-2022, dengan catatan di daerah yang statusnya bukan zona merah. Jadi orange, kuning, hijau boleh,” imbuhnya.

Dia menilai, seluruh jenjang sekolah yang berada di bawah naungan Dindikpora, baik TK, SD, maupun SMP siap melakukan PTM, apabila Rembang sudah keluar dari zona merah covid-19.

Menurutnya, pihak sekolah sudah mempunyai sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan PTM. Seperti misalnya, media pencuci tangan, masker, dan penyanitasi tangan atau handsanitizer.

Namun meski begitu, Mardi mengatakan, pihaknya perlu meminta masukan dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19, sebelum memutuskan pelaksanaan pembelajaran tatap muka.

“Sekolah-sekolah terkait dengan sarana prasarana untuk pembelajaran tatap muka, baik itu yang digunakan untuk keperluan covid-19 atau mungkin juga dengan ruang kelasnya, ini sudah siap. Karena keperluan untuk pencegah covid-19 sudah membeli. Mulai dari masker, handsanitizer, atau keran-keran untuk cuci tangan itu sudah menyiapkan. Apalagi yang sudah simulasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Katrina Prahadika salah satu orang tua siswa mengaku, senang namun was-was. Di satu sisi anaknya dapat belajar lagi secara tatap muka, namun di sisi lain kondisi pandemi covid-19 masih belum betul-betul reda.

Warga Desa Turusgede Kecamatan Rembang ini meminta agar pihak sekolah memastikan protokol kesehatan benar-benar diterapkan, seandainya nanti sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka.

“Ya senang karena belajarnya bisa efektif, biasanya kan kalau belajar di rumah kurang efektif. Tapi kalau masuk sekolah itu, supaya besok anak-anak diingatkan mematuhi protokol kesehatan. Biasanya anak-anak ini kan susah diaturnya. Semoga Rembang segera keluar dari zona merah biar cepat aman. Anak-anak bisa segera sekolah,” ujarnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan