Ribuan Warga Doakan Pabrik Semen Tetap Berjalan

Rabu, 7 Desember 2016 | 21:59 WIB
Doa bersama para pendukung pabrik semen di kawasan pintu masuk menuju arah tapak pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di areal Gunung Bokong wilayah Desa Kadiwono Kecamatan Bulu, Rabu (7/12/2016). (Foto: Mukhammad Fadlil)

Doa bersama para pendukung pabrik semen di kawasan pintu masuk menuju arah tapak pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di areal Gunung Bokong wilayah Desa Kadiwono Kecamatan Bulu, Rabu (7/12/2016). (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

BULU, mataairradio.com – Warga dari sekitar proyek pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) menggelar doa bersama pada Rabu (7/11/2016) sore.

Ribuan warga berasal dari desa-desa di ring satu memanjatkan doa guna kelancaran pembangunan dan segera beroperasinya pabrik semen di kawasan Gunung Bokong ini.

Mereka yang mengikuti doa bersama ini berasal dari Desa Kajar, Timbrangan, Tegaldowo, dan Pasucen Kecamatan Gunem serta Desa Kadiwono Kecamatan Bulu.

Suharti salah seorang peserta doa bersama menolak anggapan aksi ini sebagai tandingan atas aksi “long march” yang dilakukan warga lain yang menentang pabrik semen.

Menurutnya, aksi doa bersama ini merupakan bentuk dukungan warga yang setuju dengan dibangunnya pabrik semen, yang selama ini dinilai minim dari pemberitaan.

“Tidak ada maksud menyaingi aksi ‘long march. Ini hanya bentuk dukungan masyarakat yang pro-pabrik semen yang selama ini jarang diangkat beritanya (di media),” katanya.

Dwi Joko Supriyanto warga lain menyatakan resah apabila pabrik semen sampai ditutup karena selama ini banyak bagian dari masyarakat yang merantau bekerja di luat kota.

“Namun sejak pembangunan proyek pabrik semen mulai berjalan, masyarakat menjadi terbantu dengan adanya lapangan pekerjaan, sehingga masyarakat bisa kerja lebih dekat,” ujarnya.

Joko menekankan, pabrik semen di Rembang adalah perusahaan milik Negara, sehingga semestinya mendapat dukungan dari mayarakat negeri sendiri, Indonesia.

“Kasihan warga yang lahan pertaniannya sudah terlanjur dijual ke pengusaha penambangan. Kita tidak perlu menolak, toh itu perusahaan milik negara kita sendiri,” tandasnya.

Sementara itu, warga yang menentang pendirian pabrik semen di Rembang masih dalam perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke Semarang guna menemui Gubernur Jawa Tengah.

Agenda pokok mereka adalah menuntut Gubernur agar mematuhi keputusan Mahkamah Agung (MA) yang membatalkan izin lingkungan untuk penambangan oleh PT Semen Indonesia.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan