Rembang masih Jadi Kabupaten Paling Miskin se-Pati Raya

Minggu, 3 Juli 2016 | 18:05 WIB
 Bupati Rembang, Abdul Hafidz, saat mengunjungi rumah seorang warga yang tak layak huni di Desa Kulutan Kecamatan Gunem, belum lama ini. (Foto: Pujianto)

Bupati Rembang, Abdul Hafidz, saat mengunjungi rumah seorang warga yang tak layak huni di Desa Kulutan Kecamatan Gunem, belum lama ini. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Rembang masih menjadi kabupaten paling miskin se-Pati Raya (Rembang, Blora, Grobogan, Pati, dan Jepara) dengan angka kemiskinan terkini 19,5 persen, jauh di atas provinsi yang 13,5 persen dan nasional yang 10,96 persen.

Data tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Rembang Hari Susanto pada acara Musrenbang RPJMD 2016-2021 di Lantai IV Gedung Setda setempat, baru-baru ini.

“Sementara dari urutan lima terbesar persentase kemiskinan, kita berada di peringkat 30 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Namun karena jumlah penduduk kita relatif kecil, sekitar 199.000 jiwa, maka jumlah penduduk miskin kita, tidak masuk yang terbesar,” terangnya.

Secara distribusi pendapatan yang diukur dengan koefisien gini atau gini ratio, Kabupaten Rembang juga memiliki kesenjangan yang mulai melebar, sehingga menjadi semakin timpang karena pada 2014 saja, angkanya sudah mencapai 0,33 persen.

“Jika indeks gini ratio di bawah 0,3, maka ketimpangannya masih rendah. Tapi karena sudah di atas 0,3, maka ini pertanda bahw ketimpangan sudah harus diwaspadai,” jelasnya.

Begitu pun dari segi tingkat pengangguran, Kabupaten Rembang, kata Hari, masih mencatat tingkat pengangguran terbuka cukup lumayan pada angka 5,23 persen.

“Di tingkat pengangguran terbuka, dari angkatan kerja 350-an ribu, yang masih belum mendapat kerja 5,23 persen. Angka ini fluktuatif, tetapi ada kecederungan menurun mulai 2011,” imbuhnya.

Pada kesempatan terpisah, Bupati Rembang Abdul Hafidz mengakui, angka kemiskinan di kabupaten ini masih tinggi, antara lain dilihat dari banyak rumah tak layak huni sebagai faktor dominan.

Tetapi pihaknya menargetkan, tingkat kemiskinan akan bisa terus ditekan menjadi tinggal 11 persen pada akhir masa jabatannya atau pada tahun 2021 mendatang.

“Faktor kemiskinan ini dilihat dari banyaknya rumah tidak layak huni. Kami konsentrasi merehabilitasi 3.000 rumah tidak layak huni menjadi rumah layak huni,” ujarnya.

Sementara mengenai upaya mengatasi pengangguran Hafidz menyatakan akan fokus menangani pengangguran di usia produktif dengan memberi pendidikan dan pelatihan melalui kerjasama dengan Magistra Utama.

“Sejak 2014-2016 kemarin, ada 2.000 orang pengangguran pada kelompok usia produktif 19-24 tahun. Ini yang akan kita garap, termasuk yang usia di atas 24 tahun. Kita yakin tingkat pengangguran bisa terus ditekan,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan