MRZ Dipecat, Ternyata juga Sempat Gelapkan Laptop Sekolah

Jumat, 18 Maret 2016 | 13:53 WIB
Tersangka pelaku pembunuhan terhadap Patmi Rahayu, MRZ (26), wajah dikaburkan, dalam sebuah pose foto yang dinukil dari laman akun facebook-nya. (Foto: mataairradio.com)

Tersangka pelaku pembunuhan terhadap Patmi Rahayu, MRZ (26), wajah dikaburkan, dalam sebuah pose foto yang dinukil dari laman akun facebook-nya. (Foto: mataairradio.com)

 

PAMOTAN, mataairradio.com – Pihak SD Negeri 1 Pamotan menyatakan sudah memecat pegawainya yang berinisial MRZ setelah menjadi tersangka pembunuhan terhadap tetangganya bernama Patmi Rahayu pada Sabtu 13 Februari 2016.

Menurut Kepala SD Negeri 1 Pamotan Hartono, Jumat (18/3/2016) pagi, MRZ dipecat pada sehari setelah penetapan tersangka oleh polisi atau pada Jumat 11 Maret lalu.

“(MRZ) Itu bukan guru bantu, melainkan operator data pokok pendidikan atau dapodik sekolah,” terangnya memberikan klarifikasi.

Hartono pun mengaku, sebenarnya desakan wali murid dan masyarakat setempat untuk memecat MRZ, sudah sempat mencuat ketika pemuda ini terlibat pencurian laptop milik SMP Negeri 1 Pamotan.

“Tetapi ketika itu sekolah tidak memecatnya karena khawatir sakit hati dan merusak dapodik. Padahal data itu penting. Baru setelah ada kejadian yang berat seperti ini (persangkaan pembunuhan), kami langsung berhentikan (MRZ),” tegasnya.

Kepala SD Negeri 1 Pamotan pun menuturkan bahwa pada Sabtu 13 Februari 2016 atau ketika MRZ diduga mencuri uang, perhiasan, dan sepeda motor milik Patmi Rahayu serta diduga menghabisi korbannya, yang bersangkutan bolos kerja.

“(MRZ) Sempat absen kerja pada 12 Februari 2016. Padahal saat itu ada perintah dari operator dapodik di UPT Dinas Pendidikan Pamotan. Khawatir absen lagi, saya mendatangi rumahnya (MRZ) pada 13 Februari pagi,” bebernya.

Saat itu MRZ sudah berbaju kerja dan bilang kepadanya mau berangkat ke sekolahan, tapi akan rapat dapodik dulu di SD Negeri 4 Pamotan.

Begitu Hartono balik ke sekolah dan mengonfirmasi Kepala SD Negeri 4 Pamotan, ternyata tidak ada rapat. Maka begitu ada kasus pencurian dan temuan mayat Patmi, ia pun mencurigai keterlibatan MRZ.

“Setelah temuan mayat Bu Jiran, saya sempat juga memperhatikan wajah yang bersangkutan saat di ruang komputer. (Rautnya) Biasa saja. Tidak ada semburat rasa takut atau merasa bersalah,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Kepala SD Negeri 1 Pamotan membeberkan pula bahwa MRZ sempat menggelapkan laptop milik sekolah. Laptop itu dijual MRZ kepada seorang teman wanitanya.

Kepala SD pun mengaku mendatangi wanita itu dan mengambil paksa laptop yang dijual MRZ. Saat itu, Hartono bilang ke teman MRZ, kalau laptop tidak diserahkan ke sekolah, maka pihaknya akan lapor polisi.

“Temannya itu kan bisa dilaporkan dugaan penadahan. Karena laptop itu milik sekolah,” pungkasnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan