Lima Proyek Fisik di Rembang Berpotensi Molor

Minggu, 6 November 2016 | 20:12 WIB
Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Rembang Sugiharto (kanan) berbincang dengan pelaksana proyek pembangunan rumah dinas Bupati Rembang ketika inspeksi pada Rabu (12/10/2016). Progres pekerjaan terbilang lamban karena sejauh ini pekerjaan masih berkutat pada penyelesaian pilar-pilar bangunan. (Foto: Pujianto)

Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Rembang Sugiharto (kanan) berbincang dengan pelaksana proyek pembangunan rumah dinas Bupati Rembang ketika inspeksi pada Rabu (12/10/2016). Progres pekerjaan terbilang lamban karena sejauh ini pekerjaan masih berkutat pada penyelesaian pilar-pilar bangunan. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Lima proyek fisik di Kabupaten Rembang berpotensi selesai molor dari kontrak kerja yang ditentukan, bahkan terancam mundur dari tahun ini.

Berdasarkan pantauan mataairradio.com, proyek fisik yang berpotensi molor yaitu pembangunan rumah dinas bupati, Pasar Pamotan, Pasar Sarang, Rest Area Binangun, dan Puskesmas Sluke.

Anggota Komisi C Bidang Infrastruktur DPRD Kabupaten Rembang Mohammad Imron menilai, potensi molor penyelesaian proyek fisik tersebut karena perencanaan yang kurang matang.

“Kalau untuk proyek gedung seperti Puskesmas Sluke dan Rest Area Binangun mungkin tak cukup waktu. Ke depan pemkab mesti lebih matang dalam perencanaan,” ujarnya, Ahad (6/11/2016).

Ketua Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Kabupaten Rembang Harno menyebutkan, proyek penataan sejumlah pasar tradisional di daerah ini pun memiliki potensi molor dari kontrak kerja.

“Pasar Sarang kelihatannya berat untuk selesai tepat waktu. Begitu juga Pasar Pamotan. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada masing-masing pekerjaan itu perlu memberi peringatan,” tandasnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi A Bidang Pemerintahan DPRD Kabupaten Rembang Puji Santoso memberikan sinyal ketidakcukupan waktu atas penyelesaian pembangunan rumah dinas bupati.

“Kalau perlu pengawas proyek agar memacu progres pekerjaan dengan menerapkan kerja lembur. Bagaimana pun, jika terjadi molor maka ada sanksi berupa denda yang harus dikenakan,” tegasnya.

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengakui, ada sejumlah proyek fisik yang memiliki kerawanan molor di antaranya memang proyek Puskesmas Sluke.

“Tetapi kami sudah ingatkan SKPD yang bersangkutan agar memacu progres pekerjaan. Bisa dengan kerja lembur atau menambah jumlah dari pekerja yang terlibat,” ujarnya.

Namun jika kemungkinan terburuknya tidak cukup waktu, maka menurut Hafidz, ada sanksi berupa denda yang akan dikenakan yakni sebesar 0,002 persen per hari.

“Yang jelas, saya tidak mau penyelesaian pengerjaan proyek mundur dari tahun ini. Jika tidak selesai, kita akan putus kontrak. Kita akan opname dan itu yang akan dibayar,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan