Ketika Pemerintah Desa dan Warga Sumberjo Pentas Ketoprak

Minggu, 21 September 2014 | 18:10 WIB

ketoprak1

REMBANG,MataAirRadio.net – Malam itu, waktu sudah menunjukkan jam setengah sembilan. Sekitar 45 orang sudah siap dengan beragam model dandanan. Ada yang merias diri ala berandal atau perampok, pejabat kerajaan, dan pedagang di pasar tempo dulu. Mereka tengah bersiap mementaskan pergelaran kesenian ketoprak.

Namun mereka bukanlah seniman profesional, melainkan kepala desa, perangkat, dan warga Desa Sumberjo Kecamatan Rembang. Pementasan Sabtu (20/9) malam itu demi memeriahkan acara sedekah bumi, sekaligus momentum membangkitkan seni budaya ketoprak yang pernah hidup di desa tersebut.

Hampir semua pemain tampak antusias. Buktinya, sebelum naik panggung, mereka terlibat latihan-latihan kecil dan koordinasi ringan. Lakon “Sayembara Cinta” yang merupakan modifikasi dari cerita “Suminten Edan”, dipilih sebagai tajuk pementasan yang berakhir Minggu (21/9) jam setengah dua dini hari

Kardi, Kaur Kesra Desa Sumberjo mengaku gugup. Tak pernah terbersit di benaknya bakal menjadi pemain ketoprak. Namun dia tetap bersemangat. Ia pun mengaku harus beberapa kali latihan, agar bisa tampil menghibur. Baginya gerogi tak masalah karena itung-itung sebagai “refreshing”

insert

Suprayitno, salah satu warga yang juga didapuk sebagai salah satu pemeran malam itu, merasakan gugup yang sama. Dia sehari-hari bekerja sebagai buruh bongkar di TPI Tasikagung. Sebagaimana Kardi, dia pun tak pernah membayangkan bakal bermain ketoprak dan ditonton ribuan orang.

Memang, pemirsa pertunjukan malam itu tampak meriah. Jalanan di selatan pasar ditumpahi penonton. Tak hanya warga setempat yang datang, tetapi juga dari luar daerah. Sesekali penonton riuh oleh aksi sejumlah pemain yang dianggap kocak dan mengundang tawa.

Suprayitno mengaku empat kali latihan sebelum naik pentas. Dia yang malam itu memainkan peran berandal, sempat kesulitan mendalami watak. Namun karena rajin berlatih, dia akhirnya bisa menyelami. Niatnya sekadar memberi hiburan kepada warga. Dia mengaku tak berpikir menjadi pemain ketoprak profesional.

insert

Kepala Desa Sumberjo Yopi Arivfianto mengaku bersyukur pergelaran berjalan lancar. Sebagaimana warga dan perangkat desanya, dia pun sempat grogi karena memang baru kali ini melakoni peran pemain ketoprak. Dia juga mengaku sempat capai menyiapkan pementasan. Namun capai itu terbayar lunas dengan kekompakan warga dan terhiburnya masyarakat.

Pementasan ketoprak malam itu tidak disertai iringan perangkat gamelan. Musik pengiring ketoprak mengalun dari perangkat komputer jinjing yang diset sedemikian rupa. Hanya ditambah seperangkat kendang dan organ tunggal. Para insan muda dari desa itu yang menyiapkannya. Mereka pun mengaku puas. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan