Usai Nonton Dangdutan, Kejiwaan Mukadar Terganggu

Selasa, 4 September 2012 | 11:13 WIB
Mukadar, 27 tahun, masih dirantai di rumahnya, Selasa (4/9). (Foto: Pujianto)

KALIORI, mataairradio.net – Seorang pemuda 27 tahun di Desa Babadan Kecamatan Kaliori, Mukadar, mengalami gangguan jiwa sejak 12 tahun silam. Namun, setahun terakhir, ia terpaksa dicancang dengan menggunakan rantai besar agar tak kabur dan membahayakan penduduk.

Menurut kakak ipar Mukadar, Sukiman (40) kepada mataairradio.net, Selasa (4/9), sebelum dicancang, adik iparnya itu sempat membacok kepala ayahnya sendiri, Jemat (80), dengan menggunakan sabit, hingga terluka serius dan harus dirawat intensif di rumah sakit.

“Sebenarnya kami tidak sampai hati menyancang dia (Mukadar, red.) dengan menggunakan rantai seperti ini. Namun mau bagaimana lagi. Kami terpaksa. Ia kerap melempari beberapa rumah warga dengan batu sehingga gentingnya banyak yang pecah,” katanya.

Upaya untuk mencarikan pertolongan agar Mukadar sembuh, kata Sukiman, sudah kerap kali dilakukan. Tidak hanya dengan membawanya ke rumah sakit jiwa di Semarang yang sudah empat kali. Tetapi juga konsultasi dengan sejumlah paranormal.

“Jika pun seandainya keluarga harus berusaha lagi mencarikan pengobatan untuk anak saya ini, kami sudah tak mampu lagi,” kata Tami (60), ibu Mukadar.

Jemat dan Tami memang keluarga miskin. Keluarga ini bahkan sudah menjual semua sawahnya hingga ludes tak tersisa. “Yang tersisa ya tinggal rumah ini,” kata Tami yang mengaku menghuni rumah di RT 5 RW 3 Desa Babadan itu bersama suami dan anaknya, Mukadar itu.

Didampingi Sukiman, Tami yang terlihat tampak masih bugar kendati sudah berumur, mengisahkan perjalanan anaknya sebelum mengidap gangguan jiwa.

Awalnya, 12 tahun lalu, Mukadar pamit kepadanya hendak menonton pertunjukan musik dangdut di Dusun Playon Desa Waru Kecamatan Rembang. Lima kilometer dari desanya.

Namun, di arena dangdutan itu, tawuran antarsejumlah remaja justru pecah. Mukadar yang baru berusia belasan tahun pada saat itu, memilih pulang dan meninggalkan arena pertunjukan musik dangdut.

Dalam perjalanan pulang, ia yang membonceng sepeda motor milik temannya terjatuh di kawasan pertigaan Borak Desa Banyudono, Kecamatan Kaliori.

“Sejak sepulang nonton dangdutan malam itu, Mukadar kerap ngomong ngelantur tak karuan. Ia pun mulai sering marah-marak tak jelas. Kami langsung membawanya ke rumah sakit jiwa di Semarang, setelah konsultasi dengan sejumlah paranormal tak berhasil,” katanya.

“Namun, baru tiga hari di rumah setiap selesai pulang dari perawatan di rumah sakit jiwa, gangguan jiwanya kumat lagi. Mungkin, dalam waktu dekat, kami akan membawanya ke sebuah pesantren rehabilitasi gangguan jiwa di Blora atau Purwodadi,” imbuh Sukiman. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan